Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian ;). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian ;). Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Pengalaman Kehamilan Pertama

25 Desember 2017, saya resmi menikah dengan suami. Pernikahan ini terasa masih mimpi, tanpa diduga akan terjadi secepat ini. Akhir September saya memutuskan untuk tidak memikirkan pernikahan, fokus pada pekerjaan dan skripsi yang tak kunjung selesai. Awal November, suami mengkhitbah. Akhir Desember, kami resmi menikah. Tepat 3 hari setelah saya sidang sarjana.

Dengan proses yang secepat ini, saya tidak mengharapkan segera mendapatkan momongan. Butuh kurang lebih satu tahun untuk kami menyamakan visi, dan beradaptasi.

Akan tetapi, Allah memiliki skenario lain. Akhir Januari, saya telah menanti-nanti haid. Siklus haid saya cenderung teratur. Seminggu ditunggu, tidak ada tanda-tanda akan haid. Suami sudah punya feeling kalau saya hamil. Akhirnya, awal Februari saya coba pakai test pack. Rasanya? Deg-degan sekali. Ya Allah, saya belum siap.

Dan garis yang dihasilkan pun dua. Saya menghampiri suami sembari menangis. "Kenapa menangis? Harusnya bersyukur." Suami memeluk saya, berseri-seri. Ya, seharusnya saya bersyukur karena orang lain sungguh mengharapkan keturunan, dan ketika Allah mengamanahi ini semua, berarti Allah tau bahwa kami mampu. Ini amanah. Ya Allah :')))

Saya melakukan test pack dua kali, karena masih tidak percaya. Hasilnya sama. Alhamdulillah. Seminggu setelah test pack pun saya langsung grogi. Harus bagaimana? Ingin konsultasi ke bidan, tapi tidak tau harus konsultasi apa, harus ke bidan yang mana. Saya agak ribet untuk urusan seperti ini, saya mau bidan yang asyik diajak ngobrol, dan yang paham dan mau membimbing untuk gentle birth. Bukan bidan yang sedikit-sedikit diberi tindakan, dsb.

Saya coba tanya ke teman-teman mengenai bidan yang direkomendasikan. Belum ada yang berjodoh. Ada yang ketika kami kesana bidannya tidak ada, ada juga yang hanya buka ketika weekday sehingga susah kami jangkau -padahal rumahnya dekat tempat tinggal mertua.

Akhirnya saya coba googling mengenai bidan di Cimahi. Blog yang pertama saya temukan adalah blognya mbak Sandra Hamidah yang merupakan teman suami >< Langsung saja saya minta suami untuk tanya ke mbak Sandra mengenai rekomendasi bidan di Cimahi, dan beliau merekomendasikan untuk ke Bidan Wisdyana di Jl. H. Gofur :D

Dua minggu setelah test pack, saya periksa kehamilan pertama ke Bidan Wisdy. Deg-degan sekali, karena saya tidak tahu harus apa. Bahkan saya sendiri masih kurang ngeuh kalau saya hamil haha. Teteeettt. Ternyata Bubidan masih muda. Waw, saya jadi  semangat. Haha. Alhamdulillah, setelah periksa, cerita ini itu, Bubidan bilang bahwa saya sehat. Usia kehamilannya kurang lebih 6 minggu, jadi kalau bayi belum bisa diperiksa dari luar. Selanjutnya kami banyak berkonsultasi ini itu terutama perihal makanan serta istirahat, dan kami diberi buku pink. Haha. Saya merasa jadi ibuibuk.

Kami pun diminta USG di usia kehamilan 10-13 minggu untuk melihat posisi janin. Semoga sehat selamat, ya Allah :')

Setelah saya yakin bahwa saya hamil, ketika ada orang yang kepo apakah saya sudah hamil atau belum, saya katakan bahwa "insya Allah sedang hamil." Sejak itu pula, netizen ramai. Haha. Bumil muda kebanyakan input.

"Ga boleh kecapean lho." Yes, betul emang. Bubidan sudah mengingatkan siang hari usahakan untuk merefresh diri minimal 15 menit dengan tidur berkualitas. Secara, saya bekerja dari pagi-sore jadi memang sangat butuh meskipun sulit.

"Ga boleh makan pedas lho. Ga boleh makan bakso, es krim, nanas, durian, mie instan, micin (owemjiii penggemar makanan tidak sehat harus puasa fufu), and etc. Nanti anaknya begini dan begitu." Alhamdulillah sebelum orang-orang tau bahwa saya hamil, saya sudah konsultasi terlebih dahulu kepada Bubidan haha. Menurutnya (dan di buku pink), tidak ada pantangan makanan untuk ibu hamil, tetapi tentu saja harus makan makanan bergizi seimbang, dan lebih menjaga asupan nutrisi. Kalau makanan bermicin banyak dinilai tidak sehat yo jangan dimakan (kesimpulanku ini).

Dannnn input-input lainnya :D
Yaaa, saya tau betul semasa kuliah (saya kuliah jurusan Pendidikan Khusus), dosen sering menjelaskan bahwa penyebab anak berkebutuhan khusus itu bisa karena masa-masa kehamilan, apakah itu karena zat kimia, dsb. But, can I -just- getting the happiness? Haha. Sudah grogi, deg-degan, banyak input makin deg-degan. Dibalik semua itu, saya menyadari betul hal tersebut merupakan bentuk perhatian dan kasih sayang semua kerabat dan teman-teman. Huhu. Thanks semuanya.

Saat ini, usia kehamilan baru kurang lebih 7 minggu. Saya makin deg-degan, belum tau kondisi bayi di dalam rahim seperti apa, apalagi saya kurang memperhatikan makanan bergizi seimbang dan sangat sulit untuk beristirahat di siang hari.
Mohon doa dari semua, agar janin dan bunda sehat selamat selalu. Jazakumullah khairan katsir.

Kota Cinta,
25 Februari 2018

Dedeh Badrullaela

Sabtu, 25 Maret 2017

Part 1 - Cerita Kuliah di Pendidikan Khusus - Memupuk Cinta

Saya masuk di Departemen Pendidikan Khusus (PKh) pada tahun 2013. Jika Anda melihat postingan saya sebelumnya, Anda tentu paham bahwa pengetahuan saya mengenai dunia pendidikan khusus adalah NOL BESAR. Lha, wong saya pilih jurusannya hanya gara-gara nonton film.

Sebelum orientasi universitas, saya melihat postingan di grup mahasiswa baru jurusan PKh bahwa para mahasiswa baru ditugaskan untuk mencari tau tentang ABK. Saat itu, saya diantar oleh sepupu ke salah satu SLB di Kec. Ngamprah, Bandung Barat. Saat itu pula, kali pertama saya masuk SLB dan benar-benar berinteraksi dengan ABK. Saya tidak tahu tentang istilah tunanetra (hambatan penglihatan), tunarungu (hambatan pendengaran), tunagrahita (hambatan kecerdasan), tunadaksa (hambatan fisik dan motorik), tunalaras (hambatan emosi), autis, Down Syndrom, dsb. Tidak paham sama sekali. Satu hal yang saya ketahui bahwa ABK itu ada yang idiot (kata nenek saya namanya boloho), ada yang buta, tuli, suka ngiler, cacat, gagu, ya sebatas itu.

Awal kuliah adalah hal yang mengerikan bagi saya. Kepercayadirian saya yang memang rendah, semakin merendah, lagi dan lagi. Apalagi teman-teman di PKh 2013 adalah orang-orang hebat. Selama kuliah saya lebih banyak diam, dan takut ditanya, haha. Harapan saya saat itu hanya bisa UTS dan UAS dengan baik, mata kuliahnya lulus. Cukup. (Dan ingin segera lulus TT)
Mata kuliah yang sangat asyik sekaligus mengerikan bagi saya waktu itu adalah mata kuliah Anatomi Fisiologi dan Genetika. Dosennya adalah seorang dokter. Cerdas dan asyik sekali cara menjelaskannya. Ya, asyik, andaikan saat itu saya sudah tau dasar-dasar ilmu di mata kuliah tersebut. Saya merasa sangat bodoh. Haha. (Meski pada akhirnya ternyata mata kuliah lain yang dianggap enteng-lah yang nilainya jelek 😂)

Pada awal kuliah ini pula, saya observasi ke beberapa SLB yang ada di Kota Bandung -yang notabene adalah SLB pertama di Indonesia, dan ke SLB yang ada di Jogjakarta (SLB untuk anak multiple disability dan SLB untuk anak hambatan emosi dan sosial). Alhamdulillah, ketika bertemu secara langsung dengan ABK, saya baru 'ngeuh' dengan kekhususan mereka.

Namun, seberat apapun mata kuliah bagi saya, kecintaan pada pendidikan, khususnya pendidikan bagi ABK tidak berkurang malah semakin bertambah. Saya tetap senang kuliah, senang ketika dosen membukakan wawasan saya mengenai ABK. (Meskipun saya tidak aktif di kampus; bukan tipikal yang bercita-cita tinggi, ikut event ini itu, perlombaan ini itu; bukan mahasiswa yang tingkat keingintahuannya tinggi, yang sungguh-sungguh mendalami ilmu pendidikan khusus; tidak aktif di organisasi kampus, benar-benar hanya kuliah saja. Catat ya, jangan beranggapan saya mahasiswa intelek penuh semangat, saya hanya mahasiswa kupu-kupu biasa dan tak patut dicontoh! Hehe)

Di semester ketiga, saya sudah tidak begitu merasa terbebani, apalagi sejak semester dua saya dipertemukan dengan PAS-ITB yang menjadikan saya seolah memiliki keluarga di Bandung. Kecintaan saya terhadap dunia pendidikan berkembang ketika di PAS-ITB. Disanalah wawasan saya semakin terbuka lebar, dan PAS-lah yang mengenalkan saya terhadap banyak hal. Big thanks PAS!

Semester demi semester perkuliahan, saya semakin mencintai dunia pendidikan khusus (dan pendidikan secara umum). Saya senang bertemu anak-anak, saya senang ngobrol dengan anak-anak dan menemukan banyak hal dari mereka. Saya senang belajar mengaplikasikan sedikit ilmu yang saya dapat  kepada mereka. Mungkin salah satu korban terparahnya adalah adik-adik PAS, para murid les, dan Abang Hudza 😂
Dari interaksi dengan Abang Hudza, dan anak-anak lainnya, saya belajar berinteraksi dengan mereka (komunikasi efektif), dan banyak hal lainnya. Belajar mendalami jiwa seorang anak, bukan memaksakan jiwa mereka kepada diri kita -orang dewasa.

Oh ya, untuk belajar secara praktis, selain dari perkuliahan, saya senang kalau sudah membaca novel psikologi terutama yang berkaitan dengan pendidikan khusus. Salahsatunya novel Torey Hayden atas saran Kak Rismaya Nurmalasari. Thank u, Kak! 😘 Dari novel tersebut, saya belajar bagaimana memahami jiwa seorang anak dan pendekatannya agar interaksi guru-murid menjadi efektif.

(Kalau sudah begini, saya merasa terlalu full of love tapi pendalaman ilmunya sangat minim 😥. Ya, saya jarang baca buku, belajar lebih, bahkan yang direkomendasikan para dosen. Benar-benar mahasiswa payah! 😑)

Special part-nya, selain di PAS-ITB, saya pun berkesempatan 'belajar' di Rumah Autis Hasanah Bandung (kini bernama Rumah Hasanah Autism Center). Saya memilih RHAC sebagai tempat 'nugas' saya selama dua semester terakhir. Disana saya benar-benar belajar berinteraksi dengan anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) (sempurna dengan para terapis super). IYKWIM, komunikasi dengan anak ASD sangat menantang. Mereka seolah memiliki dunia sendiri, memiliki bahasa sendiri, memiliki cara sendiri untuk mengungkapkan sesuatu. (I'll post it, later. Berkaitan juga dengan apa yang saya dapat dari novel Torey Hayden).

Dua semester itu sangatlah berkesan bagi saya. Selain terapis yang friendly, kondisi RHAC yang penuh cinta untuk ABK membuat saya tersentuh 😍
Saya merasa menemukan orang yang sepaham, bahwa mencintai ABK bukan hanya tentang mendalami ilmunya, tapi apa yang bisa kita lakukan demi memanusiakan mereka.

xxxxxxx

Saya semakin menyadari, proses belajar di kampus bukan tentang sebuah gelar, bukan tentang sebuah karier, lebih dari itu, saya belajar memupuk sebuah cinta yang kelak akan saya bagikan kepada anak-anak, terutama anak-anak saya (kelak) dan ABK, dengan jalan manapun. (Tidak selalu tentang menjadi guru yang tercatat oleh pemerintah 😊)
Cinta yang sesungguhnya, yaitu memenuhi hak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang tepat.

Rabu, 29 April 2015

Ketika di Tikar...

Circle time berakhir. Inilah moment luar biasa adik dan kakak, "group time".
Sebelum circle time berlangsung, kakak dan adik telah menyiapkan tikar untuk "group time" mereka. Lantas setelah circle time berakhir, tikar tersebut digelar dan duduklah adik dan kakak diatas tikar. Ada yang sempurna melingkar, ada yang persegi dan kebanyakan sih tak beraturan.
Di atas tikar inilah, group time berlangsung. Diawali dengan BBAQ dan.. hayo apa?

Hampir dua semester membina kelompok TeKa, saat-saat ini masih sering membingungkan. Oke, begini ceritanya ketika aku bersama partner kelompokku di tikar bersama adk-adik.

1. Saling bertanya kabar, ngobrol ringan sebagai pendahuluan. Biasanya waktu ini sangat menentukan mood adik.

2. BBAQ. Bagaimanapun caranya, ini waktunya BBAQ. Terlepas dari media dan metode apapun yang digunakan. Apakah dengan mengaji satu persatu, menggambar lalu diselingi dengan gambar huruf hijaiyah, dan sebagainya. Bagiku, ini sangat fleksibel disesuaikan dengan kondisi adik saat itu. Jika adiknya sedang mau mengaji, ya ikuti keinginannya. Jika adiknya sedang ingin bermain, carilah permainan yang bisa menyelipkan pelajaran BBAQ didalamnya.

3. Hafalan surat. Ketika semester 61, aku tidak begitu menekankan hal ini karena adik-adik kelompokku masih kecil dan pecah perhatiannya karena mereka sangat aktif (terutama adik putra). Akan tetapi, setelah kunjungan ke salah satu adik kelompokku, ternyata ia sangatlah bagus hafalan suratnya. Tentu hal seperti ini tidak boleh dibiarkan, harus di stimulus secara terus menerus. Alhamdulillah, ternyata partner kelompokku di semester 61 itu jauuh lebih memperhatikan akan penyampaian materi kepada adik, termasuk hafalan surat bahkan sebelum kunjungan ke adik kelompokku itu (kalau tidak salah ingat).
Di semester 62, adik kelompokku berusia 5-6 tahun. Bacaan iqra dan hafalan suratnya cukup baik dan sangat perlu distimulus terus menerus. Maka, aku dan partner kelompokku rutin mengajak mereka untuk membaca surat-surat pendek. Tidak semua mau mengikuti, tetapi aku yakin lantunan surat tersebut akan diproses didalam memori mereka.

3. BBAQ dan hafalan surat tidak berlangsung lama biasanya, mentoring kolosal pun belum dimulai. Inilah waktu "bebas"nya kelompok yang terkadang membingungkan bagiku. Ya, di waktu ini ada yang memilih berlarian di lapangan rumput, jalan-jalan disekitar Salman, dan bercerita. Semuanya juga sangat bermanfaat lho!
 - Berlarian di lapangan rumput -> akan melatih perkembangan motorik adik. Tidak semua adik lincah dalam berlari kan? Berlarian juga dapat melatih keterampilan berinteraksi sosial, karena yang namanya permainan akan melibatkan lebih dari satu orang. Permainan pun melatih perkembangan kognitif anak. Kata dosenku, perkembangan kognitif anak itu berkembang melalui bermain, karena bermain akan menstimulus kreativitas anak, imajinasi anak, dsb. Satu lagi, melatih ke-pede-an dan kemandirian anak, karena adik yang pemalu atau masih nempel sama orangtuanya akan susah di ajak bermain.

- Jalan-jalan di sekitar Salman -> wuih kalo ini akan memperkaya pengalaman adik, sangat! Ketika jalan-jalan, adik akan melihat banyak hal dan tentu saja sebagai kakak, kita harus mendukungnya dengan berbagai penjelasan. Melihat pohon, buah sukun, bunga, kucing, keong, orang-orang yang berlalu lalang, dsb. Biasanya, adik banyak belajar juga disini. Seperti minggu kemarin, ketika melihat tempat sampah yang ditempeli tulisan "sampah organik" dan "sampah anorganik". Ternyata, adik kelompokku belum tau bedanya. Setelah dijelaskan, mereka melihat isi tong sampah dan bengong "Kak, kenapa tempat sampah bekas makanan isinya plastik?" :3

- Bercerita/mendongeng. Aduhai ini yang paling membingungkanku tetapi aku tau ini sangat penting, karena disini kita sedang membina generasi rabbi radhiya (aamiin). Aku tau, banyak cerita baik itu dongeng, cerita anak, maupun kisah Nabi yang sangat pantas untuk disampaikan kepada mereka. Tetapi keterbatasan pengetahuan dan keterampilan bercerita didepan adik pun menjadi hambatannya. Pernah suatu ketika aku bercerita tentang kisah Nabi, mereka malah acuh karena memang menurutku juga caraku menyampaikannya tidak begitu menarik. Akhir-akhir ini, meskipun tidak dengan mendongeng secara utuh, aku tetap berusaha menyampaikan kisah. Seperti ketika melihat semut, aku bercerita tentang kehebatan Nabi Sulaiman. Ketika mereka jatuh (sakit) aku bercerita tentang kesabaran luar biasa Nabi Ayyub.

Ya, disini aku banyak belajar. Aku tidak se-expert kakak-kakak yang lain. Aku sering kikuk, tetapi inilah belajar. Aku banyak belajar dari mereka, adik-adik, kakak-kakak dan orangtua.

Alhamdulillah..

Ketika di tikar... itulah waktu emasku dan partner kelompokku bersama adik-adik. Manfaatkan dengan sebaik mungkin. Belajar....

Minggu, 29 Maret 2015

Single Kakak



Single parent,
Begitu ceritanya aku ahad ini. Kakak kelompokku yang lain berhalangan hadir. Alhamdulillah aku tidak begitu shock, entah padahal biasanya khawatir sekali adikku kemana-mana.
Ahad ini pula, adik-adikku begitu kooperatif dan ceria semua. Tidak ada tragedi menangis, tidak ada tragedi berantem, tidak ada tragedi manja terkecuali satu adik yang sedari awal sudah badmood karena ia lupa bawa sendal dari rumah.

Semua adik berbaur. Bahkan Kamila –salah satu adik kelompokku yang ABK, dia menunjukkan perkembangan luar biasa. Ia mau berbagi makanan kepada temannya dan teman-temannya mulai beradaptasi dengan kondisi Kamila yang memang berbeda. Mereka mulai mengerti dan mau berusaha berinteraksi dengan Kamila. Adalah Kenzie, adik yang tidak segan berlari dengan Kamila, meskipun postur tubuh Kamila lebih tinggi dan larinya lebih cepat, hey mereka berlarian bersama. Bahkan ketika perhatian Kamila mulai teralihkan dan pegangannya lepas dari Kenzie, Kenzie berusaha mengulurkan tangannya dan mengajak bermain bersama.

Aufa, yang hari ini telah menjadi kakak. Ia tidak manja sama sekali bahkan ketika kakek dan om-nya berkali-kali mengunjungi Aufa di tikar, sampai aku khawatir dia berpaling karena biasanya ia manja ketika ada kerabatnya mendekat ke tikar. Tapi tidak. Aufa setia kepadaku. Haha. Aufa asik bermain bersama Izan.
Ketika harus mencari harta karun, mereka sangat antusias. Meskipun mereka pergi kesana kemari mencari bendera, tak lama kemudian mereka kembali kepadaku. Kita bersama kesana kemari, main kejar-kejaran, bernyanyi-nyanyi, makan eskrim bareng, cuci tangan bareng, menemukan banyak hal baru, entah itu daun yang gugur, langit yang cerah, dan masih banyak lagi.

Semuanya asik bermain. Asik berlarian. Asik bercerita baanyak hal, yang aku yakin hal tersebut lebih banyak manfaatnya, insya Allah. Jujur saja, aku masih kaku jika harus mendongeng, tetapi melihat wajah-wajah penasaran mereka, ceritaku berkepanjangan sampai-sampai aku merasa ngaco, ga jelas lagi. Haha.

Satu lagi yang bikin terharu -> ketika Aufa cium tangan. Biasanya ia dingin aja, tetapi ahad kemarin Aufa menggenggam tanganku lebih lama dpun mencium punggung tanganku. “Aku mau cium tangan yang lama” Ujarnya sembari kembali mencium tanganku dan tersenyum riang.
 
Semoga pekan depan mereka tetap ceria dan kooperatif juga. Hihi. Aufa, Haikal, Izan, Khalil, Ghassan, Kamila, Kenzie, Putri, Annisa, Faiqa. J

Minggu, 08 Maret 2015

Aku, Disini..

Kuliahku sudah memasuki semester empat. Jadwal kuliahnya super banget, hanya dari senin-rabu, full. (Hanya?). Wuihh bagi kebanyakan mahasiswa, jadwal seperti ini asik banget untuk pulang kampung (jika tidak ada tugas). Bisa mudik empat hari!!!

Tidak demikian denganku, setelah lebih dari sebulan memasuki semester empat aku belum mudik
"Ketika teman-teman kampus membicarakan mudik dan saya tetap di Bandung, disitu kadang saya merasa sedih."
Loh, kenapa sedih? Tentu tidak. Aku bertemu dengan orangtuaku setiap hari -melalui benda canggihku. hehe. Selain itu, weekend-ku dihabiskan di Pembinaan Anak-anak Salman ITB (PAS-ITB). Merasa keren? Tentu tidak juga karena sebenarnya banyak juga mahasiswa yang ndak pernah mudik, hehe. Kalau tidak rumahnya jauh, pasti dia seorang aktivis. Akan tetapi, aku bersyukur karena Allah tempatkan di PAS-ITB. Setidaknya, "si aku" yang barugajul begini bergaul dengan orang-orang yang melangkah di jalan-Nya serta dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang sangat bermanfaat, insyaa Allah.

Memang keterlibatan di organisasi manapun tentu akan membutuhkan pengorbanan. Tidak hanya satu dua hal, mungkin tiga atau empat dan banyak lagi. Dari mulai waktu mudik dan jalan-jalan tersita (meskipun aku masih sering jalan-jalan koq, haha), waktu mengerjakan tugas terpotong untuk memikirkan organisasi, bolak-balik ngurusin ini itu, dan lain sebagainya.

Setiap apa yang kita lakukan akan ada konsekuensinya. Termasuk berorganisasi. Jika kita menjalaninya dengan baik dan sepenuh hati, tentu akan mendapatkan konsekuensi positif baik itu keluasan ilmu maupun ketenangan diri karena menjalaninya dengan hati yang senang. Sekalipun ada permasalahan yang harus diselesaikan, ketika kita menjalaninya dengan senang hati, maka yang kita terima tetaplah konsekuensi positif. Begitupun sebaliknya.

Di PAS juga, tidak semudah yang dibayangkan. Mahasiswa yang menjadi anggota pembina PAS berasal dari berbagai kampus di kota Bandung. Passion, kesibukan bahkan jarak ke Salmannya pun sungguh beragam, hehe. Mereka dengan sukarela datang ke Salman untuk membina adik-adik.
Kegiatan di PAS adalah pembinaan anak-anak dari mulai usia 3 tahun sampai kelas 6 SD. Pembinaan disini bertujuan untuk menciptakan generasi rabbi radhiya dan rahmatan lil 'alamin. Akan tetapi, pembinaan disini lebih bersifat menyenangkan, disesuaikan dengan perkembangan zaman dan disesuaikan dengan karakter anak-anak yang masih senang bermain-main, bebas dan penuh kreatifitas sehingga bentuk pembinaannya banyak yang berupa permainan edukatif. Aku sering membayangkan, ditengah kesibukan mahasiswa yang kian hari kian sibuk, akan tetap adakah mahasiswa yang berminat mengurusi organisasi seperti ini? Bukan tidak pernah, akupun sering bolos di organisasi ini karena ini itu, bahkan terkadang malas.

Aku mendapat jawaban dari salah satu orangtua adik yang dulunya pun seorang aktivis. Menurutnya, yang menyatukan mahasiswa dalam organisasi seperti ini adalah "niat" atau "tujuan". Ketika tujuan atau cita-cita setiap anggota sudah searah, maka mereka akan tetap bersemangat dalam organisasi tersebut. Beliau sangat senang dengan keberadaan PAS ditengah-tengah kemelut dunia pendidikan saat ini. Dengan tegasnya, beliau berharap organisasi ini tetap langgeng.
Masya Allah.. Semoga harapan dari salah satu orangtua adik ini terwujud.

Maka, masih adakah ketidakbahagiaanku ditengah generasi muslim yang bersemangat dalam "mencari tahu" banyak hal, ditengah orangtua yang mengharapkan anaknya "paham" akan banyak hal, ditengah kakak-kakak yang senantiasa menggandeng tanganku untuk tetap berada dijalan-Nya?

Aku bukan tidak ingin pulang, Mah, Pak. Aku akan pulang.. :)
Love you.. :)

Kamis, 06 November 2014

Inilah Hidup, Deh!

“Mamah, Bapa.. Bumi teh meni sararempit.” (Mamah, Bapa.. Rumahnya sempit banget.)
“Mamah, Bapa, tingali korsi na meni tos awon kieu.” (Mamah, Bapa, lihat kursinya udah jelek.)
Mamah, Bapa, hoyong liburan atuh, bete dibumi.” (Mamah, Bapa, pengen liburan, bete dirumah.)

Dan berbagai keluhan lainnya tentang rumah, kendaraan, liburan seringkali aku dan adikku lontarkan kepada orangtua selama beberapa tahun terakhir. Memang, keluhan itu seringkali hanya sekedar candaan pun orangtuaku demikian.

Hari ini, berbagai peristiwa telah menamparku, menampar kebiasaan mengeluhku.
=====
Hidup tak se’simple’ yang kubayangkan.

Sejak aku berusia 3 tahun, orangtuaku sudah memiliki rumah. Meskipun sederhana, tetapi layak dihuni. Keluargaku hidup rukun. Tidak pernah ada pertengkaran yang berarti. Orangtua begitu menyayangiku, pun seringkali memberikan apa yang kuinginkan. Keluarga besarku pun demikian, mereka sangat menyayangiku.

Simple. Hidup itu sederhana, aku hanya perlu sekolah sampai sarjana setelah itu mengajar seperti ayahku, mendapat gaji, menikah, mengurus rumah tangga, punya anak, mengasuh anak, simple kan?” Bayangku ketika masih kecil.

Selama hampir lima tahun merantau, pemahaman tersebut terus terkikis seiring semakin matangnya psikisku. Banyak kisah hidup yang membuatku bersyukur dan menyadari bahwa “hidup itu tidak mudah, butuh perjuangan.” tetapi sungguh, keluhku masih lebih banyak daripada syukurku.

Dan hari ini, aku mendapatkan pelajaran yang amat berharga tentang “hidup”.

=====
Bersama beberapa teman, aku mengunjungi rumah adik binaan. Letaknya masih di jantung Kota Bandung. Jauh dari apa yang kubayangkan, rumahnya amat sangat sederhana. Hanya ruangan kecil bahkan jauh lebih kecil dari kamar kost ku, dihimpit oleh bangunan-bangunan lain dan terasa sedikit lembab. Didalamnya terdapat tiga lemari baju berukuran kecil, satu lemari es, televisi di atas salahsatu lemari baju, dan perabotan rumahtangga lain yang disusun di atas lemari-lemari tersebut. Kompor dan peralatan masak lainnya disimpan diluar rumah, tepat didepan jendela yang otomatis sedikit mempersulit jalan masuk kerumah.

Adik binaan tersebut  terdaftar sebagai salahsatu adik beasiswa. Ia sangat cerdas. Aktif dalam kegiatan, ramah, selalu hormat kepada kakak-kakak pembinanya dan disekolahpun ia selalu masuk kedalam tiga besar. Tidak sedikitpun aku melihat pesimistis dalam sorot mata ibunya. Ia semangat mendukung kegiatan anaknya, memfasilitasi anaknya belajar –meski sederhana.

“Subhanallah, subhanallah, subhanallah” hatiku menangis, kesakitan. Bagaimana mungkin aku mengeluh dengan kondisi yang jauuuuuh lebih baik dan saaangat sangat harus disyukuri.

======
Kunjungan kedua dihari yang sama, pun di lokasi yang berdekatan dan kondisi yang nyaris sama. Adik tersebut adalah adik beasiswa juga. Sungguh pintar. Selain hobi bermain sepakbola, ia sangat tekun mempelajari al-Qur’an dan menghafalnya. Ia tinggal di kostan bersama ibunya. Hanya berdua. Orangtua mereka berpisah ketika usianya menginjak 6 bulan dan sang ayah tidak pernah menemuinya lagi. Padahal ‘kelahiran sang anak’ sangat ditunggu-tunggu, bahkan mereka menunggu sampai 15 tahun untuk dikaruniai seorang anak. Tetapi setelah Allah menjawab do’a-do’a mereka, sang suami pergi bersama perempuan lain dan sang istripun berdiri paling depan dalam mendidik dan membesarkan anaknya, tegar sekali.

Subhanallah... Kurang apalagi kamu, Deh? Sudah dikaruniai keluarga yang sangat menyayangi, difasilitasi untuk setiap keinginan dan cita-citamu. Akankah kamu tetap mengeluh? Malu, sangat malu.

=====
Dulu, aku hanya melihat kondisi demikian dalam televisi. Hari ini, Allah memperlihatkannya langsung didepan mataku pun dalam kehidupanku (karena mereka bagian dari hidupku).

Hari ini, Allah memberi peringatan kepadaku, halus sekali namun cukup membuat hatiku sakit, sakit sekali. Betapa hidup itu tidak semudah yang kubayangkan. Betapa amat banyak nikmat Allah yang luput dari syukurku. Betapa dzalimnya aku, betapa oh... aku bukan siapa-siapa dan belum mampu melakukan apa-apa.


Alhamdulillah, alhamdulillah. Allah mempertemukanku dengan mereka, sungguh bahagia yang amat mendalam. Alhamdulillah. “Maka nikmat Tuhan-Mu yang mana kah yang kamu dustakan?”.

Buka Mata Hati, Luruskan

Tak ada yang abadi, memang
Termasuk pencarian kebenaran

Dulu kita membenarkan apa yang kita anggap benar
Menurut pengalaman belajar kita
Dan belum tentu itu benar –seutuhnya

Dulu kita belajar apa itu benar
Lalu sekarang menyalahkan yang benar
Dan membenarkan yang salah

Belajar tidak ada batasnya
Lihatlah lebih luas
Bukan hanya dari sudut pandang yang kita miliki
Benarkan yang benar
Salahkan yang salah

Kita tidak kalah karena salah
Selama masih ada kesempatan
Kita kalah kala membenarkan yang salah
Dan menyalahkan yang benar

Aku sakit hati melihat caramu menatap perjalanan kita, kala itu

Ayolah, masih ada kesempatan, kawan..

Gegerkalong Girang, 5 Nov’ 14
Ditulis dengan penuh cinta,
Dariku, untukmu, kawan

Mari buka mata hati..

Selasa, 14 Oktober 2014

Selalu Ada Hikmahnya


Selalu ada hikmahnya, seperti beberapa hari terakhir di jalan depan kosan yang sedang diperbaiki. jalan ditutup, kendaraan bermotor tidak bisa lewat. alhasil telinga ini terbebas dari suara bising kendaraan.

Upsss bukan itu saja hikmahnya, ada yang lebih spesial. Dari sore hingga malam hari -jika cuaca sedang berpihak, anak-anak asik bermain sepeda, ada yang sudah mahir hingga bisa berkejaran, pun ada yang baru belajar dibantu oleh orangtuanya. Adapula yang tidak memiliki sepeda, bergantian temannya meminjamkan, atau jika tak ada yang meminjamkan pun mereka tak hilang keceriaan. Mereka berlarian mengejar temannya yang bersepeda, tertawa bahagia. Ibu-ibu yang baru saja menyelesaikan pekerjaan rumahnya, bapak-bapak yang baru selesai bekerja, berkumpul di jalanan tersebut, sekedar 'nongkrong', bertegur sapa membicarakan hal-hal ringan sembari mengawasi anak mereka. Aduhai..

Entahlah aku yang selama ini kurang memperhatikan lingkungan atau memang sungguhan, aku jarang sekali melihat pemandangan seperti ini. Apa yang kulihat lebih banyak kesibukan dirumah masing-masing ketimbang interaksi dengan tetangga.

Terkadang pikiran konyol mendera, "andai jalanan selalu se-sepi ini, andai jalanan ini selalu ditutup, lantas anak-anak mendapat tempat bermain baru, orang-orang berjalan kaki saling bertegur sapa." Hmm tapi itu konyol. Ini Kota Bandung, orang-orang berdesakkan tinggal di ibukota Jawa Barat ini. Ini bukan Rancah, kampungku yang masih sepi, sejuk, jauh dari hiruk pikuk kota. Anak-anak bermain di 'halaman rumah tanpa pagar', sawah, lapangan bahkan kebun dan hutan. Ibu-ibu mengobrol santai di sore hari bersama tetangga, saling berkirim makanan, saling membantu. Bapak-bapak sibuk bekerja tanpa melupakan kesejahteraan kampungnya; memperbaiki jalan, membantu pembangunan rumah, mesjid, dsb.

Sudahlah. Perkataanku memang absurd. Syukur jika ada yang paham, jika tidak pun semoga tidak menjadi salah paham fatal.

Senin, 22 September 2014

Kau Mengalihkan Duniaku

Sore sekali aku menyusuri jalan Gegerkalong ke arah barat, menuju kamar kontrakanku. Keindahan pemandangan didepan sana membelakakkan mataku yang letih kuajak beraktivitas seharian ini plus terkena debu jalanan. Matahari yang hendak terbenam dibentengi awan besar sehingga semburat cahayanya memancar disetiap sisi awan menghasilkan kombinasi warna jingga dan keunguan, kombinasi yang amat menawan.
Seperti biasa, kuhabiskan weekend dengan beraktivitas disana, PAS-ITB. Hal itu sudah menjadi komitmen diri –disamping komitmen struktural di PAS-ITB-. Tentu saja, karena itu merupakan konsekuensi keberadaanku disana. Ketika aku melakukan aktivasi kepada pihak MPA, otomatis hal tersebut menandakan bahwa aku harus mengikuti kegiatan disana. Hari sabtu dan ahad merupakan salah satu kegiatan wajib; konsolidasi, mempersiapkan media untuk mentoring ahad, mentoring kakak, dan mentoring ahad serta diakhiri evaluasi. Tidak pantas rasanya jika aku mengaku kakak pembina aktif PAS-ITB, tapi absen dalam kegiatan wajib tersebut, terkecuali jika memang ada agenda lain yang tidak bisa ditinggalkan sama sekali.
Sore itu juga, betapa terasa ringannya hati ini setelah beraktivitas disana. Bahagia, tertawa bersama anak-anak kecil nan lucu dengan segala kepolosannya, tanpa noda. Bahagia. Memetik banyak pelajaran berharga, ilmu agama, teaching, parenting, kreatifitas, organisasi dan masih banyak lagi. Tentu saja, karena belajar tak mesti di bangku formal, tak mesti di usia sekolah. Belajar dimanapun, dari siapapun dan kapanpun. Belajar dari kehidupan. Entahlah, jika membahas rasa ini, sulit dideskripsikan. Deskripsi yang sudah saya tulis pun rasanya belum mewakili.
Tiba di kamar kontrakan, barulah lelah ini terasa. Selepas membersihkan diri dan sholat maghrib, langsung kurebahkan diri sembari membayang apa yang harus kulakukan malam ini. Selepas sholat isya, tak mampu lagi menahan kantuk, aku tertidur. Masa bodo dengan tugas yang belum kukerjakan. “Masih ada dini hari”, pikirku.
Berkat kasih sayang Allah, aku masih bisa menjalani hari; bangun pagi, menghadapi tugas, sholat, merapikan kamar, menyiapkan sarapan, berangkat kuliah. Alhamdulillah. Kuliah senin ini dimulai pukul 07.00 dan semangatku –yang sempat hilang- kini membara. Badanku terasa ringan sekali menjalani aktivitas perkuliahan.
Selain untuk sholat dzuhur, waktu istirahat kumanfaatkan untuk makan siang bersama salah seorang teman, Kak Safa, kakak pembina PAS-ITB satu semester denganku, pun satu jurusan dan satu kelas. Setelah memesan makan, akupun duduk santai sambil memperhatikan sekitar. Hmm telingaku seperti menangkap suara serta gaya bicara yang kukenal lantas kulirik orang yang duduk di bangku sebelahku. Hey! Itu Kak Anna! Kakak pembina PAS-ITB semester 56. Perbincangan seru pun tak terelakkan dan nampaknya cukup menggemparkan kantin. Perbincangan tak berlangsung lama karena masih ada agenda lain.
Baru saja kami memasuki gedung fakultas, Kak Sisit, kakak pembina PAS-ITB semester 58 menyapa kami. Tentu lebih sering berjumpa dengan beliau dikarenakan jurusan yang sama. Kami pun tak berbincang lama, karena aku harus bersegera menuju mushola.
Ditengah perjalanan menuju mushola, kulihat wajah yang amat kukenali, Kak Putri dan Kak Asna, kakak pembina PAS-ITB dengan semester yang sama denganku, semester 61. Lagi-lagi perbincangan tak berlangsung lama. Baru saja melangkah sejauh satu meter, kami melihat wajah yang kami kenali, Kak Degha! Ketika menghampiri Kak Degha, ternyata ada Kak Adis dan Kak Zakiah juga! Memang, mereka bukanlah kakak pembina PAS-ITB, tetapi mereka merupakan wali adik pada acara besar PAS-ITB liburan akhir semester lalu. Dikarenakan intensitas bertemu dengan mereka tak sesering dengan kakak PAS-ITB, kami pun berbincang dengan antusiasnya, meskipun hanya sekitar 5 menit. Ketika asyik berbincang, seseorang memanggil mereka, hmm sepertinya kenal. Ah, tentu saja! Kak Yulia, kakak pembina PAS-ITB semester 59. Memang mereka dari jurusan yang sama. Namun tak lama, kami berpamitan untuk segera ke mushola, akhirnya berpisahlah.
Setibanya di mushola, kami segera menuju toilet untuk berwudhu. Kamipun mengantri dan aku masuk lebih dulu, bergantian. Ketika menunggu Kak Safa, aku melirik ke sebelah kanan, ke tempat bercermin. Perempuan berjilbab merah itu.......... Sepertinya aku kenal. Kuperhatikan, dan hey Kak Janu! Beliau merupakan kakak pembina PAS-ITB dengan semester yang sama pula, semester 61. Perbincangan pun berlangsung meskipun tak cukup lama –karena itu d toilet juga-, tetapi seperti yang lainnya, tetap antusias.
Perkuliahan berakhir pukul 14.40. Akupun bersegera pulang. Baru saja keluar gedung fakultas, berjumpa lagi dengan salah satu kakak pembina PAS-ITB, Kak Dila dari semester 61 yang sedang mencari dosennya, lantas kamipun bertegur sapa. Subhanallah...
Pembina PAS-ITB memang berasal dari berbagai kampus yang ada di Bandung, namun demikian yang berasal dari kampusku -UPI Bandung- amat banyak, maka tidak heran jika di kampus seringkali berjumpa dengan kakak PAS-ITB di sudut manapun.

Ah, kamu! Iya, kamu! Dikarenakan kamu, mengenalkan aku dengan banyak orang hebat, menjembatani persaudaraan kami. Kamu, kukira hanya di weekend membersamaiku, ah bahkan kamu ‘ada’ kala aku berada di kampus. Kamu mengalihkan duniaku. *eaaaa

Selasa, 29 April 2014

Metamorfosis (part 3)

Ya, di pos empat yang bertempat di Pondok Pesantren Nurul Huda ini, kami disambut oleh ka Noti, ka Idris, ka Deni, ka Ayu dan ka Lusi. Ternyata di pos ini kami dilatih untuk lebih disiplin. Kakak-kakak PAS lebih tegas, dan tentu saja aku sedikit aneh dengan suasana ini. Kakak PAS yang biasanya rame, riang, sekarang jadi kaku dan memasang wajah yang kurang bersahabat. Kami dipermasalahkan karena kertas yang hanya ada 12. Kami diberi pilihan untuk kembali ke pos tiga atau yang lulus hanya aku saja. Loh, aneh kan ? Pada akhirnya kakak-kakak PAS tersebut memperbolehkan kami mengganti 2 kertas yang hilang itu dengan sebuah komitmen. Ketika aku hendak mengusulkan sesuatu, adzan berkumandang dan pada akhirnya kami melaksanakan shalat dzuhur dan mengikuti kegiatan selanjutnya.
Kertas yang diambil dari pos tiga itu ternyata berisi beberapa kasus, masalah dan kami diminta untuk memberikan solusinya. Sudah kuduga, kegiatan selanjutnya lebih serius. Solusi kami tidak diterima oleh ka Apip, kertas yang berisi solusi tersebut disobek. Ada beberapa kakak larva yang memperjuangkannya. Aku ? Malas sekali terlibat dalam sandiwara ini, hehe. Tetapi ketika di lapangan futsal dan sandiwaranya semakin panas, aku tidak tahan untuk berbicara. Disana, parah banget lah. Aku sadar, kakak larva masih banyak yang egois dengan pendapatnya masing-masing. Namun, pada akhirnya kami memutuskan untuk membuat barikade dan memaksa untuk menemui ka Ifan yang dihalangi oleh kakak-kakak PAS. Jika boleh jujur, bagian inilah yang paling membosankan bagi ku karena aku memang tidak begitu suka hal seperti itu. Hehe. Maaf kakak-kakak. Rasa bosan itu hanya hinggap sesaat karena tanggapan dari Ifan sungguh luar biasa. Pada intinya, ka Ifan mengatakan bahwa apa-apa yang sudah kami lakukan itu belum seberapa dibanding perjuangan Rasulullah ketika berdakwah. Terharu banget lah saat itu, aku jadi merasa bersalah karena malas-malas mengikuti sesi yang terakhir ini.
Setelah ka Ifan menyampaikan tanggapannya tersebut, ka Ifan langsung melantik kakak larva, bermetamorfosis menjadi kakak SEMUT (semester 61). Saat itu, langit seakan mendukung suasana tersebut dengan turunnya hujan. Kakak-kakak PAS mengelilingi kami, saling bergandengan tangan, menyanyikan mars PAS. Huwaaaa...antara senang dan sungguh terharu berada ditengah-tengah PAS, ditengah orang-orang yang peduli terhadap agamanya, terhadap generasi penerusnya. Mataku serasa panas menahan airmata yang tak ingin kubiarkan tumpah. (Malu dong, :D ) Kakak PAS menyalami kami satu persatu. Duhai, terharu.
Rangkaian OBT pun selesai. Setelah makan siang, kami bersegera pulang dan masih harus melewati jalanan ekstrem. Tanjakan yang sungguh menyeramkan. Haha. Tetapi lelah pun tak terasa ketika hati merasa bahagia. Terimakasih kakak-kakak PAS juga kakak-kakak SEMUT. Jangan lupa dengan komitmennya ya, kakak-kakak SEMUT. Mari kita melangkah bersama !! Yeaaahh.

Terimakasih Allah, telah mengenalkanku pada mereka. Sungguh, “Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kamu dustakan ?”. Allah memberiku kesempatan untuk terus belajar banyak, dari PAS-ITB khususnya :D

Metamorfosis (part 2)

Nah, muhasabah berlangsung hingga pukul 04.00. Ketika aku membuka mata, wah ternyata banyak lilin dan aku suka suasana itu. Tetapi karena waktu sudah semakin pagi kami pun segera bergegas menuju mesjid untuk melaksanakan qiyamullail.
Rasanya waktu bergulir semakin cepat, padahal tetap satu menit enampuluh detik. Yap, saatnya OBT dan hati-hati mengatakannya, jangan jadi O BeTe, haha *apasih*. Sebelum kita menuju lokasi OBT yang masih dirahasiakan, tentunya sarapan dulu. Barulah sekitar pukul 07.00 atau 07.30 kami circle time di lapangan rumput dengan dipandu oleh ka Dwi. Lantas mulai diberangkatkan kelompok demi kelompok dan kelompokku, kelompok no. 1 mendapat giliran terakhir. Huaaaa bete sih, tapi tak apa karena selama penantian itu (cielah) kami mendengarkan cerita-cerita dari ka Ellis dan ka Dinur tentang acara besar. Yeeeee.
Dan pada akhirnya, kamipun berangkat menuju lokasi OBT di Taman Budaya dengan dibekali sesuatu oleh ka Liya untuk menunjang keberangkatan kami. :D
Setibanya di pos pertama, materinya adalah tentang Psikologi Amat karena disana ada ka Amat, jika tidak ada jadi Psikologi Anak (begitulah kiranya kata ka Idris). Kami diminta untuk menangani kasus adik yang masih nempel kepada orangtuanya dan adik yang enggan mentoring. Seru deh, karena yang jadi adiknya adalah ka Idris dan ka Aul *loh :D
Setelah selesai di pos pertama, kami dipersilahkan menuju pos selanjutnya di PLTA yang entah dimana, tetapi ternyata ada penunjuk jalan koq ! hehe. Wah ternyata dipinggir sungai lho!! Materinya tentang ke-PAS-an oleh ka Igna dan ka Uril. Dan kami bisa menyelesaikannya dalam waktu beberapa menit saja. Horeeee (^^)9
Tetapi, tidak cukup sampai disitu. Kami diminta untuk menyebrangi sungai, tentu tidak boleh lewat jembatan. Huwaaaa ini yang kutunggu-tunggu selain hutan dan jalanan curam, :D
Satu persatu anggota kelompokku pun turun. Mungkin tak semua memiliki perasaan yang sama denganku, karena ada juga yang nampak ragu untuk melangkah *cielah*. Nah itulah peran penting kelompok, kebersamaan. Kami melangkah bersama, berpegangan tangan, saling membantu hingga akhirnya kita sampai di atas. Sebenarnya kalau boleh minta, ingin sekali rasanya berlama-lama di sungai itu, meloncat dari batu yang satu ke batu yang lainnya, merasakan dinginnya air sungai (meski tak bisa dikatakan jernih).
Kamipun menuju pos selanjutnya, pos ketiga. Tracknya lumayan menantang, :D  tetapi seru lho !! Jarang-jarang kan jalan ke hutan seperti itu. Hihi. Di pos ketiga ini, ada ka Cakra dan ka (maaf lupa lagi namanya -_-). Tugasnya adalah membuat media pembelajaran dan mensimulasikannya. Kamipun membuat kapal-kapal-an sebagai media untuk mendongeng, meski gaje ya itulah media pembelajaran dadakan kami. Hehe.
Sebelum menuju pos selanjutnya, kami diminta untuk mencari 14 kertas dengan warna yang sama di kuburan. Huooo horror (engga juga sih, kan siang hari :D ). Kami hanya menemukan 12 warna biru, dan itu jadi permasalahan di pos selanjutnya.

-to be continued-

Metamorfosis (part 1)

Jum’at, 25 April 2014
Terik sekali siang itu, ketika aku bersama salah seorang kakak larva juga, ka eNJe, berpamitan pulang dari sebuah perkumpulan. Saat itu, jam di ponsel menunjukkan 14.40. Kami segera bergegas, karena pukul 16.00 harus sudah berkumpul di paving blok Masjid Salman untuk mengikuti rangkaian terakhir PKB di PAS ITB yaitu OBT dan kakak larva 61 akan segera bermetamorfosis jadi SEMUT. Yeeeaah.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.40 ketika aku dan ka eNJe berangkat menuju Salman. Deg-degan, takut telat, membayangkan rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan, itulah yang mengisi pikiran ku saat itu.
Seperti biasa, waktu yang dibutuhkan untuk ngangkot tidak bisa diprediksi. Kami tiba di Salman sekitar pukul 16.30. Telat. Namun, betapa terkejutnya ketika mendapati di paving blok hanya terdapat 4 kakak larva. Duh, masa cuma berenam sih ? Seiring berjalannya waktu, kakak-kakak larva yang lain pun berdatangan. Syukurlah. Dan agendanya sore itu adalah “Manasik” alias “makan-makan asik”. Asik ? Makannya sih asik, tapi masaknya itu lhooo... (alibi selaku yang ga bisa masak, haha). Manasik ini adalah lomba masaknya kakak larva. Beruntung kakak kelompokku pada pinter masak, dan rasa masakannya sangat unik sampai-sampai para juri mencicipinya sembari memejamkan mata. Haha. Dan kelompokku pun mendapatkan juara favorit. Yeeeee. Yang pada akhirnya kuperkirakan terfavorit itu karena kita tidak masuk kategori “ternyata enak” dan ter-apalah satu lagi aku lupa. Baiklah, tak apa.
Setelah Manasik, kakak-kakak PAS menayangkan sebuah video dokumenter selama  PKB. Wah tak terasa sudah 6 pertemuan yang berarti sudah hampir 2 bulan. Bagiku, ini hal yang sungguh menyenangkan ! Sayang sekali banyak kakak larva yang melewatkannya karena kesibukan lain.
Sekitar pukul 21.30 kakak larva dipersilahkan untuk beristirahat dan mencharge energinya untuk OBT esok hari. Katanya sih, jauh dan melelahkan. Lantas kamipun tertidur meski aku sendiri susah tidur karena entah kenapa. Hingga pukul 02.30 kakak-kakak PAS dibangunkan dan mereka diam-diam berkumpul. Ya, aku tidak sepenuhnya tertidur sehingga bisa mendengarkan sayup-sayup suara kakak PAS di GSG. Sepertinya mempersiapkan untuk muhasabah, karena jika tidak salah ada agenda itu. Hihi. Pukul 03.00 sepertinya kakak PAS akan membangunkan kakak larva, akupun segera kembali memejamkan mata, berpura-pura tertidur. Dan benar saja, kami dibangunkan, lalu dengan menutup mata kami dipandu untuk menuju suatu tempat, tentu saja GSG, hehe. Dan benar juga, agenda kali itu adalah muhasabah. Dengan keadaan mata yang masih ditutup, kakak-kakak PAS mulai menyampaikan kalimat demi kalimat muhasabah yang membuat kakak larva menangis bahkan ada yang sampai tersedu-sedu. Subhanallah. Menangis karena mengingat Allah.

-to be continued-

Senin, 31 Maret 2014

Nice Sunday ! (with PAS-ITB)

Bandung, 30 Maret 2014

Belajar maha luas. Mendapatkan ilmu tidak mengenal waktu dan tempat. Mendapatkan ilmu dari apa dan siapapun.

Quotes dari apa yang aku dapatkan hari ini tatkala “first time” ikut mentoring PAS ITB. Jemariku sudah tak sabar untuk menceritakannya ! ^^

Ya. Saat ini aku tengah berusaha memasuki dunia PAS-ITB. Cielaah. Dari sekian organisasi yang melintas dalam pemikiranku, ternyata inilah yang kupilih. PAS-ITB. Haha. Masih alur PKB memang, tetapi aku telah jatuh cinta (semoga Allah memberi jalan). Pertemuan demi pertemuan dalam alur PKB senantiasa ku ikuti dengan senang hati. Dari tujuh pertemuan yang harus dilewati, ternyata sudah empat pertemuan !

Setiap pertemuan memiliki kesan tersendiri. Apalagi perihal tugas. Gokil guys ! Aku memang selalu mengerjakan tugas tersebut (sekalipun ngasal  haha) dan ternyata selalu ada reward ! Duhai senangnya. (narsis mode: on). Hanya satu tugas yang belum terlaksana, tugas Ka Waketum tuh. Huwaaaaaa.. Tapi aku akan berusaha melaksanakannya, optimis ! :*

Nah di pertemuan ke empat, kakak Larva Semut Merah diperbolehkan magang di mentoring ahad. Si “aku” yang memang nggak ada kerjaan pasti bersedia dong, meskipun diiringi keraguan “Bisi garing karena nggak konsol dulu”. Singkat cerita, hadirlah aku dalam mentoring ahad yang diawali dengan Embun Pagi. Rasanya, inilah pertama kalinya merasa ada yang “kurang” ketika ke Salman. Apa itu ? Hanya aku dan Dia yang tahu. Haha (ga penting sih). Selanjutnya.... Kikuk banget selama Embun Pagi. Sifat pemalu ku muncul seketika dan mengacaukan emosiku. Deg-degan. Itulah. Alhamdulillah, aku masih bisa menyerap ilmu dari tausiyah kala itu, sedikit mah.

Tiba saatnya mentoring ~
Aku ditempatkan di kelompok TeKa, Abdul Malik. Tentu sebelumnya dipertemukan terlebih dahulu dengan kakak kelompoknya yaitu Ka Nabil. Sebelum circle time, aku hanya mematung. Bingung luar biasa, mana adik kelompoknya tak tau entah yang mana. Kakak yang lain tentu sudah mengenal adiknya masing-masing. Huooo...Tetapi kekacauan emosi yang membuatku mematung kala itu, ter-beres-kan oleh circle time. Navira sungguh aktif sehingga membuatku tak bisa diam. Adik lain pun (yang entah kelompok mana) banyak yang tanpa kakak, langsung saja ku rangkul.

Circle time berakhir... Saatnya ke tikar dan aku ngga tau apa yang akan dilakukan. Hoho. Ah ternyata BBAQ. Hey, ini anak TeKa, masih moody lah buat belajar formal seperti baca iqro. Navira bergelayut manja di pangkuan ka Nabil. Fatha tak bisa dipisahkan dengan bundanya (iyalah *eh), dan Ka Tata sudah asyik dengan Farel. Diriku ? –krikkrik-

Tak lama, datanglah Zahran. Syukurlah, aku ngga mematung lagi. First sight-ku pada Zahran ialah adik yang cerdas, aktif dan menyenangkan. Dia lantas membuka iqro dan dengan semangatnya menunjukkan batas bacaan terakhirnya. Tetapi dia lantas membolak-balikkan halamannya dengan ekspresi lupa nan polos pun imut. Lalu aku bertanya (biar cepet) “Jadi, sudah sampai mana iqro-nya?” Dia lantas menunjukkan satu halaman. “Eh salah bukan yang ini” ucapnya sembari membuka halaman yang lain, dan hal itu ia lakukan sekitar dua kali lagi sebelum ia mengatakan “Nah yang ini Kak !” “Wah sudah jauh ternyata” ucapku. “Hahaha kakak ketipuuuuu...kakak percaya aja??” –plaakkk- ini adik TeKaaaaaa....huhuhu..  Tetapi, baiklah, setidaknya first sight-ku itu memang benar. Zahran anak yang cerdas, aktif dan “menyenangkan”. Dia membaca iqronya satu halaman ! Nice ! Dan ketika akan sarapan dia beradu argumen terlebih dahulu. Kenapa makan harus memakai tangan lah, dan lain-lain. Konyolnya, ketika aku mencoba memahamkannya dengan cerita (seperti petuah bu Mimin), dia menolak. Aaarrggghh. Yasudah, pada akhirnya dia mau makan menggunakan tangannya koq.

Selanjutnya, Navira merengek ingin lari-lari di lapangan rumput. Aku bingung, sungguh. Takut dimarahi kakak yang lain sih gara-gara meninggalkan tikar. Tetapi mana mungkin membiarkan Navira berlari-lari sendiri ? Zahran pun demikian. Akhirnya aku mengikuti mereka berlari, Farel dan Fatha pun ikut. Hey, Fatha mau lepas dari pangkuan ibunya lho ! senangnyaaaaa .

Disanalah ke-gaje-an yang seru banget karena saat itulah aku bisa lebih dekat dengan mereka. Lalu, berlarianlah aku bersama keempat adik TeKa. Tak lama, aku melihat ka Abdul pun berlarian dengan adik ! Horeeee....ternyata ini hal yang lumrah dan aku tidak akan menjadi tersangka tentunya. Haha.

Beberapa menit kemudian istirahat. Semua adik makan bekalnya masing-masing. Hebatnya Navira. Gadis imut yang ku perkirakan usianya 4-4,5 tahun itu makan sendiri ! Duhai, orangtuanya pasti sangat bangga. Ah iya, waktu istirahat hanya 15 menit, tentu saja Navira berwajah kesal karena tidak sempat bermain bahkan makan pun tak habis. Selanjutnya, ka Ipit sudah berkoar-koar dengan toa-nya mengumumkan bahwa saatnya membuat kompos.

Kelompok Abdul Malik berada pada kloter ketiga. Adik-adik tak sabaran untuk mendapatkan plastik sarung tangan dari ka Uni. Lantas, aku bersama Navira dan Fatha bergerilya mencari daun. Mereka teramat bersemangat hingga berlarian. Taraaaaa. Akhirnya terkumpullah daun-daun di plastik hitam yang dipegang ka Tata. Adik-adik pun berkumpul. Zahran, Farel, Navira, Fatha, Mahira dan entah siapa lagi namanya. Hoho. Lalu kita menghancurkan daun tersebut hingga bisa digunakan kompos. Hebatnya, Zahran dan Farel melepas sarung tangan mereka, pun Navira. Meski dengan sedikit kericuhan tetapi pada akhirnya, selesai juga. Dan kami pupuklah dua pohon yang berada di ujung lapangan rumput.

Hey, sudah selesai ternyata. Waktunya circle time pulang. Ah rasanya terlalu singkat. Tetapi amat berkesan. Dan lucunya, diakhir ketika adik-adik bersalaman dengan kakak kelompoknya, ka Nabil meminta dicium pipi kepada Navira, namun Navira menolak. Ketika bersalaman denganku, ia tiba-tiba memasang wajah cemberut dan tidak bersemangat pulang seperti yang lain. Ia malah duduk dipangkuanku. Ketika ayahnya memanggil, dia berjalan lunglai ke arahnya dengan malas. Kemudian ayahnya bertanya kenapa, dan aku terkejut sekaligus tersenyum simpul ketika ia menjawab “Gamau cium pipi..” haha. Ka Nabiiiillll tersangkaaa hihi. Ah lucunya ~

Baiklah, saatnya mentoring club. Aku meminta kepada ka Sisit untuk ditempatkan di Pencil. Tetapi setelah dicari-cari Pencil entah dimana. Lantas ka Sisit menempatkanku di MuMed. Huwaaaaaa... aku kan ga bisa. Aaarggh diriku deg-degan. Aku duduk bersama Nabila dan aku berusaha mengikuti instruksi dari ka Adik untuk membuat lilin yang bisa ditiup katanya. Sebenarnya tidak begitu sulit, namun karena tidak terbiasa, rasanya kaku. Dan Nabila terus saja memanggil ka Azifa ketika ada yang tidak ia mengerti. Haaaa aku dianggap apa. Hik hik. Tetapi akhirnya aku melebur dalam perbincangan bersama Nabila dan Kalila. Akupun mulai mengerti instruksi ka Adik sehingga bisa membantu Nabila tanpa memanggil-manggil ka Azifa. Dan Nabila teramat senang ketika berhasil membuat lilin yang bisa ditiup dan bola yang masuk kedalam ring. Horeeee.

Akhirnya mentoring pun selesai. Setelah shalat dzuhur saatnya evaluasi. Inilah yang membingungkan karena banyak yang mengatakan “gapapa sih ga ikut juga” dan statusku yang masih Larva. Jadi ?? Oke baiklah, aku ikut saja. Lagian aneh rasanya jika hanya ikut mentoring gitu aja.

Disinilah ukhuwah dengan kakak PAS itu amat terasa. Hangat. Ramah. Meski tidak semua kakak PAS se-welcome itu. Celetukan-celetukan lucu tapi berisi, menambah kehangatan dan meleburkan ke-kaku-an diriku. Selain itu, gara-gara Ka Dwi sering dan teramat sering mengatakan aku mirip dengan ka Okky, aku pun jadi bahan bully-an kakak lain. Sebenarnya  tidak masalah sih jika dibilang mirip karena ka Okky pun nampaknya tidak masalah. Tetapi masa memanggilku dengan sebutan ka Okky juga ?? Uuugghh ka Dwiiiiiiiiii >_<


Terlepas dari semua ceritaku, kini mulai jelaslah pemahamanku mengenai PAS yang sesungguhnya. Hoho. Aku jatuh cinta, sungguh. Karena disini aku belajar banyak hal dan ghiroh tholabul ‘ilmi amat terasa menggelora. Terimakasih Allah, telah menakdirkanku untuk merantau di kota ini dan menakdirkanku untuk mengenal mereka. Sungguh aku bersyukur, karena tidak semua orang bisa merasakan kebahagiaan seperti ini. Bahkan masih ada saja yang stagnan, tidak membuka mata terhadap perubahan zaman, sibuk terhadap urusan perut dan wajah, berpikir kolot serta mengacuhkan dunia pendidikan. Aku merasa sangat rendah dan fakir akan ilmu. Aku ingin belajar belajar belajar lagi dan lagi. Terus menerus. Dari manapun, dari siapapun. Lantas menyebarkan semangat ini kepada saudara-saudara yang lain. Duhai, tetapkan aku di jalan-Mu, Allah. Dan terimakasih Mamah, Bapak telah mengizinkanku untuk merantau pun senantiasa mendukungku baik dengan doa maupun materi.