Tampilkan postingan dengan label Catatan Khusus ;). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Khusus ;). Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Maret 2017

Part 1 - Cerita Kuliah di Pendidikan Khusus - Memupuk Cinta

Saya masuk di Departemen Pendidikan Khusus (PKh) pada tahun 2013. Jika Anda melihat postingan saya sebelumnya, Anda tentu paham bahwa pengetahuan saya mengenai dunia pendidikan khusus adalah NOL BESAR. Lha, wong saya pilih jurusannya hanya gara-gara nonton film.

Sebelum orientasi universitas, saya melihat postingan di grup mahasiswa baru jurusan PKh bahwa para mahasiswa baru ditugaskan untuk mencari tau tentang ABK. Saat itu, saya diantar oleh sepupu ke salah satu SLB di Kec. Ngamprah, Bandung Barat. Saat itu pula, kali pertama saya masuk SLB dan benar-benar berinteraksi dengan ABK. Saya tidak tahu tentang istilah tunanetra (hambatan penglihatan), tunarungu (hambatan pendengaran), tunagrahita (hambatan kecerdasan), tunadaksa (hambatan fisik dan motorik), tunalaras (hambatan emosi), autis, Down Syndrom, dsb. Tidak paham sama sekali. Satu hal yang saya ketahui bahwa ABK itu ada yang idiot (kata nenek saya namanya boloho), ada yang buta, tuli, suka ngiler, cacat, gagu, ya sebatas itu.

Awal kuliah adalah hal yang mengerikan bagi saya. Kepercayadirian saya yang memang rendah, semakin merendah, lagi dan lagi. Apalagi teman-teman di PKh 2013 adalah orang-orang hebat. Selama kuliah saya lebih banyak diam, dan takut ditanya, haha. Harapan saya saat itu hanya bisa UTS dan UAS dengan baik, mata kuliahnya lulus. Cukup. (Dan ingin segera lulus TT)
Mata kuliah yang sangat asyik sekaligus mengerikan bagi saya waktu itu adalah mata kuliah Anatomi Fisiologi dan Genetika. Dosennya adalah seorang dokter. Cerdas dan asyik sekali cara menjelaskannya. Ya, asyik, andaikan saat itu saya sudah tau dasar-dasar ilmu di mata kuliah tersebut. Saya merasa sangat bodoh. Haha. (Meski pada akhirnya ternyata mata kuliah lain yang dianggap enteng-lah yang nilainya jelek 😂)

Pada awal kuliah ini pula, saya observasi ke beberapa SLB yang ada di Kota Bandung -yang notabene adalah SLB pertama di Indonesia, dan ke SLB yang ada di Jogjakarta (SLB untuk anak multiple disability dan SLB untuk anak hambatan emosi dan sosial). Alhamdulillah, ketika bertemu secara langsung dengan ABK, saya baru 'ngeuh' dengan kekhususan mereka.

Namun, seberat apapun mata kuliah bagi saya, kecintaan pada pendidikan, khususnya pendidikan bagi ABK tidak berkurang malah semakin bertambah. Saya tetap senang kuliah, senang ketika dosen membukakan wawasan saya mengenai ABK. (Meskipun saya tidak aktif di kampus; bukan tipikal yang bercita-cita tinggi, ikut event ini itu, perlombaan ini itu; bukan mahasiswa yang tingkat keingintahuannya tinggi, yang sungguh-sungguh mendalami ilmu pendidikan khusus; tidak aktif di organisasi kampus, benar-benar hanya kuliah saja. Catat ya, jangan beranggapan saya mahasiswa intelek penuh semangat, saya hanya mahasiswa kupu-kupu biasa dan tak patut dicontoh! Hehe)

Di semester ketiga, saya sudah tidak begitu merasa terbebani, apalagi sejak semester dua saya dipertemukan dengan PAS-ITB yang menjadikan saya seolah memiliki keluarga di Bandung. Kecintaan saya terhadap dunia pendidikan berkembang ketika di PAS-ITB. Disanalah wawasan saya semakin terbuka lebar, dan PAS-lah yang mengenalkan saya terhadap banyak hal. Big thanks PAS!

Semester demi semester perkuliahan, saya semakin mencintai dunia pendidikan khusus (dan pendidikan secara umum). Saya senang bertemu anak-anak, saya senang ngobrol dengan anak-anak dan menemukan banyak hal dari mereka. Saya senang belajar mengaplikasikan sedikit ilmu yang saya dapat  kepada mereka. Mungkin salah satu korban terparahnya adalah adik-adik PAS, para murid les, dan Abang Hudza 😂
Dari interaksi dengan Abang Hudza, dan anak-anak lainnya, saya belajar berinteraksi dengan mereka (komunikasi efektif), dan banyak hal lainnya. Belajar mendalami jiwa seorang anak, bukan memaksakan jiwa mereka kepada diri kita -orang dewasa.

Oh ya, untuk belajar secara praktis, selain dari perkuliahan, saya senang kalau sudah membaca novel psikologi terutama yang berkaitan dengan pendidikan khusus. Salahsatunya novel Torey Hayden atas saran Kak Rismaya Nurmalasari. Thank u, Kak! 😘 Dari novel tersebut, saya belajar bagaimana memahami jiwa seorang anak dan pendekatannya agar interaksi guru-murid menjadi efektif.

(Kalau sudah begini, saya merasa terlalu full of love tapi pendalaman ilmunya sangat minim 😥. Ya, saya jarang baca buku, belajar lebih, bahkan yang direkomendasikan para dosen. Benar-benar mahasiswa payah! 😑)

Special part-nya, selain di PAS-ITB, saya pun berkesempatan 'belajar' di Rumah Autis Hasanah Bandung (kini bernama Rumah Hasanah Autism Center). Saya memilih RHAC sebagai tempat 'nugas' saya selama dua semester terakhir. Disana saya benar-benar belajar berinteraksi dengan anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) (sempurna dengan para terapis super). IYKWIM, komunikasi dengan anak ASD sangat menantang. Mereka seolah memiliki dunia sendiri, memiliki bahasa sendiri, memiliki cara sendiri untuk mengungkapkan sesuatu. (I'll post it, later. Berkaitan juga dengan apa yang saya dapat dari novel Torey Hayden).

Dua semester itu sangatlah berkesan bagi saya. Selain terapis yang friendly, kondisi RHAC yang penuh cinta untuk ABK membuat saya tersentuh 😍
Saya merasa menemukan orang yang sepaham, bahwa mencintai ABK bukan hanya tentang mendalami ilmunya, tapi apa yang bisa kita lakukan demi memanusiakan mereka.

xxxxxxx

Saya semakin menyadari, proses belajar di kampus bukan tentang sebuah gelar, bukan tentang sebuah karier, lebih dari itu, saya belajar memupuk sebuah cinta yang kelak akan saya bagikan kepada anak-anak, terutama anak-anak saya (kelak) dan ABK, dengan jalan manapun. (Tidak selalu tentang menjadi guru yang tercatat oleh pemerintah 😊)
Cinta yang sesungguhnya, yaitu memenuhi hak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang tepat.

Selasa, 21 Maret 2017

Perjalanan Tes Masuk Perguruan Tinggi

Awal semester genap, adalah masa-masa galau siswa siswi kelas XII. Sejenak saya flashback ke memori masa SMA, bagaimana saya memilih jurusan kuliah.

Saya bersekolah di Madrasah Aliyah, dan mengambil Program Keagamaan (PK). Tahun pertama sekolah masih ada harapan ingin pindah ke Program IPA karena saya rasa passion saya disana. Tetapi takdir berkata lain, ilmu keislaman serta kenyamanan lingkungan sosial PK menarik saya untuk tetap disana.

Tahun-tahun awal, cita-cita saya mendalami ilmu Tafsir dan Hadits, karena saya merasa ilmu itu keren! (Sampai sekarang pun tetap keren di mata saya). Kita bisa menggali Al-Quran dan Sunnah dengan baik, yang pada akhirnya bisa memilah ajaran/pernyataan, dsb yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Ya, saya sebal sekali dengan yang hoax-hoax 😂

Akhir tahun kedua (kalau tidak salah), saya dan teman-teman kelas menonton film The Miracle Worker (true story kehidupan Hellen Keller). Saya menangis sesenggukan membayangkan betapa sulitnya hidup menjadi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Tetapi dengan penanganan yang tepat, ternyata dia bisa. Pada saat itu pula saya bertekad ingin membantu para ABK menjalani kehidupan dengan baik, mendapatkan hak sebagaimana mestinya, sebagi manusia.

Namanya masa remaja, proses meyakinkan mimpi itu tidak mudah. Berkali-kali ragu, dengan alasan inilah-itulah, sampai sempat mengalah demi suatu ketidakpastian.

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk meneguhkan cita-cita, belajar ilmu pendidikan khusus. Karena saya menyadari, ilmu yang akan saya dapatkan ini insya Allah sesuai passion saya yang senang berbagi, bukan karena seseorang, bukan karena ambisi, dan bukan untuk karier ya, catat! (Karena selama ini banyak yang beranggapan kuliah di Pend. Khusus utk mengejar finansial)

Singkat cerita, masa pendaftaran SNMPTN pun datang, dan saya dengan -sok- PD nya memilih Pendidikan Luar Biasa UPI dan (saya lupa) jurusan lainnya di UPI pula. Padahal saya tau betul bahwa kecil sekali kemungkinannya. Lha yang dipilih kelompok IPS. Meskipun hanya melihat nilai raport, tapi kan raport saya isinya mata pelajaran keagamaan.

Selain SNMPTN, saya daftar SPMB PTAIN (seleksi masuk khusus PTAIN melalui jalur nilai raport) meskipun sebenarnya orangtua kurang merestui. Saya memilih jurusan Psikologi (kalau tidak salah), Pend. Bahasa Arab, dan Sejarah Peradaban Islam di UIN Syarif Hidayatullah (Jakarta). Saya cari aman saja, karena sangat pesimis bisa masuk PTN.

Ketika pengumuman hasil SNMPTN, saya gagal. Sedih, tentu. Nyaris putus asa, iya. Tetapi di SPMB PTAIN, saya lolos masuk jurusan Sejarah Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah. Kebingungan pun terjadi, orangtua tidak merestui, saya tidak begitu sreg juga, tetapi beberapa teman dan guru mendukung dan saya pesimis bisa masuk PTN lewat jalur tes tulis, SBMPTN. "Asal kuliah saja-lah," pikir saya.

Akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengambil kursi di UIN Syarif Hidayatullah (dzalim, ya Allah TT), dan mendaftar SBMPTN sebagai jalur terakhir. Kalau tidak lolos, saya kembali ke pondok saja. Saya memilih jurusan Pendidikan Khusus, Bimbingan dan Konseling, dan Pend. Bahasa Inggris-UPI. (Kacau balau urutan pilihannya 😂)

SBMPTN? Bah, mana bisa saya mengerjakannya. Materi soalnya materi IPS. Memang saya membeli buku latihan soal SBMPTN IPS, tapi saya hanya mengisi TPA, Bahasa Indonesia, dan (sedikit) Matematika saja. Malas belajar IPS, susah karena harus dari dasar.

Dari keseluruhan soal SBMPTN yang saya kerjakan sungguh-sungguh hanya TPA, bahasa Indonesia, dan Matematika. Sisanya saya pakai feeling! Ya, feeling! Karena beberapa materi IPS akrab di telinga kita.

Saya sudah tidak berharap lagi. Pasrah.

Ketika pengumuman hasil SBMPTN, ternyata saya lolos masuk Pendidikan Luar Biasa UPI. Kaget? Iya banget. Sampai gemetar.

Alhamdulillah, sekarang sudah mencapai detik-detik terakhir dan saya bahagia bisa belajar ilmu pendidikan khusus, meskipun pada awalnya saya sangat kelabakan. (Anak PK belajar ilmu sosial dan -di awal kuliah belajar- sains itu sesuatu banget 😥). Saya menemukan banyak hikmah, saya menemukan "diri" saya disana. (terlepas dari bagaimana saya menjalani kehidupan perkuliahan yang benar-benar datar 😂). Terlebih, saya berkesempatan belajar di Pembinaan Anak-anak Salman ITB. Meskipun tak lama, tapi ilmu dan kekeluargaannya sangat berpengaruh bagi kehidupan saya di Bandung.

So, apa hikmah dari perjalanan saya?

Bagi adik-adik yang akan lulus SMA, saya sarankan untuk:
1. Memohon ridho orangtua dan patuh kepada keduanya. Yang saya lupakan dari semua ketidakmungkinan ini adalah kekuatan doa orangtua :)
2. Memilih langkah yang sesuai dengan diri kita (minat dan bakat). Usahakan untuk tidak memaksakan diri memilih langkah yang sangat 'bukan gue banget'. Menjalani aktivitas sesuai dengan passion adalah kebahagiaan yang amat sangat. Be your self :)
3. Berkaitan dengan poin 2, usahakan tidak memilih jurusan demi sebuah karier, terutama untuk disiplin ilmu sosial. Usahakan tetap Lillah. :)
4. Untuk saran lainnya yang bersifat praktis, bisa Anda temukan dengan mudah dari berbagai buku, internet, guru BK, dll 😉

Bravo! Semoga sukses di mata Allah.

PS: sebelumnya saya pernah post yang serupa di Segenggam Cita dalam Doa

Selasa, 11 Agustus 2015

"Acara Besar"

Tidak terbayangkan sebelumnya, aku terlibat dalam "acara besar". Ketika ajakan untuk bergabung itu dilontarkan, aku merasa baik2 saja, aku - dan mereka- pasti bisa. Toh, acara "tahunan".

Satu persatu orangtua mulai mendaftarkan anaknya. Satu hari, dua hari sampai seminggu pertama masih baik2 saja. Selanjutnya, puluhan orang menelpon setiap harinya. Ada yg melakukan pendaftaran, sekadar bertanya, dsb. Saat itu, saat-saat ujian akhir semester di kampus tempatku menimba ilmu. Tak jarang puluhan telepon dan sms memenuhi layar hp ka Liya yg digunakan sbg "hp admin". Terkadang aku masih sempat menjawabnya, tetapi aku tidak bisa fokus dan akhirnya, hp kumatikan. Ah, tak terbayang berbagai keluhan karena hpku off pun bermunculan ketika hp dinyalakan kembali. Hm.. Diluar dugaan, tetapi alhamdulillah, dapat terkendali.

Eh, sudahlah itu curhat cerita buruk saja. Cerita baiknya, aku berada di tengah-tengah para ketua tim yg hebat dan aku memiliki anggota tim yg kooperatif. Aku banyak belajar terlepas dari bagaimanapun iklim sosial kami saat itu.

Selama berlangsung Helikopter, ya Helikopter.. Aku merasakan banyak hal yang berbeda. Ada keinginan untuk membuat acara ini sesukses mungkin. Ada keinginan untuk memeluk semua adik yg, maasya Allah.. Bersemangat sekali. Dan, ada cinta yang entah mengalir begitu saja kpd kakak2 yang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk acara ini.

Dan ketika hari terakhir pun, aku merasa sesak. Aku merasa sangat menyayangi adik-adik yg bahkan belum kuketahui satu persatu. Aku merasa ingin terus membina mereka. Dan, hey adik-adik pun menangis haru. Taukah? Mataku panas, dadaku sesak menahan airmata, "jangan sampai mereka melihat bersedih."

Itulah sepotong episode kehidupan ku. Akan kutuliskan detailnya suatu saat, insya Allah. Karena akan sangat banyak yg ingin aku bagikan kepada orang-orang.

Acara ini benar2 besar, membutuhkan persiapan yang matang sampai berbulan-bulan lamanya. Bagaimanapun, aku belum pernah mengurusi sebuah acara yang menghadirkan banyak "cinta" seperti Helikopter ini. Entah kenapa. Ah.


-bersambung -


Senin, 08 Juni 2015

Surat Cinta dari Putri Kecilmu

Aku menatap hari ini, diatas kasur empuk yang kau belikan duatahun yang lalu sebagai bekal untukku merantau. Langit cerah diluar sana, tapi aku belum beranjak. Setelah shalat subuh, aku memutuskan untuk beraktivitas dikamar untuk mengistirahatkan otot-otot dan pikiranku setelah akhir-akhir ini kugunakan untuk berbagai hal yang cukup melelahkan. Didepan laptop yang kau belikan empat tahun yang lalu sebagai bekal untukku belajar, di layarnya terpampang daftar anak-anak yang hendak mengikuti kegiatan Ramadhan. Ditengah-tengah pendataan dan puluhan telpon dari orangtua anak-anak yang hendak mendaftar, kalian tetap yang utama berada di pikiranku.

Di perantauan tahun kelima, belum ada yang bisa kuberikan kepadamu. Aku masih putri kecilmu yang selalu merepotkan. Dulu dengan 'ompol'ku, manjaku dan tangisanku. Kini, selain dengan curhatan tentang berbagai masalah di perantauan, aku merepotkanmu dengan kebutuhan yang belum bisa kupenuhi sendiri. Aku masih putri kecilmu.

Pertemuan kita sangat sedikit, dikarenakan aku yang jarang sekali pulang. Bukan tidak ingin, tetapi banyak hal yang mungkin sedikit menghambat kepulanganku. Tak apa, saat ini ada media komunikasi lain untuk saling bertukar kabar. Selain itu, aku yakin "doa" adalah media komunikasi yang sangat baik untuk saling menyampaikan kecemasan kita kepada-Nya dan memohon 'keselamatan' untuk kita.

Kita yang memutuskan bersama untuk semua perjalananku. Terlepas dari berbagai keinginanku untuk memilih 'tempat belajar', dengan restumu aku berada disini. Aku belum dewasa. Tetapi disini aku banyak belajar, tentang kehidupan. Di kota ini, banyak sekali yang berbeda dengan di kampung sana, dari mulai kondisi lingkungan sosial, geografis, budaya, dsb. Aku harus menyesuaikan diri dengan cepat. Alhamdulillah, dengan restumu aku bisa beradaptasi. Aku bisa kesana kemari, menemukan banyak hal yang menjadi bahan pembelajaranku.
Di kota ini, aku banyak bertemu dengan orang-orang hebat yang baik hatinya, mereka yang membantuku belajar. Mereka menjadikanku sebagai saudaranya, mereka selalu ada untukku.  Akupun bertemu dengan orang-orang hebat lainnya -anak-anak yang aku bina dan orangtuanya, dosen-dosenku, anak-anak yang kujadikan objek pengamatan untuk tugas kuliah, dll. Mereka mengajariku banyak hal, tentang kehidupan.



Aku banyak belajar, terutama bahwa dalam kehidupan ini kita tak punya kuasa, kita hanya punya usaha. Allah-lah yang Maha Memiliki Kekuasan. Kita tidak bisa kecewa dengan apapun yang Allah takdirkan kepada kita, karena Allah selalu mengatur skenario indahnya.

Terimakasih karena telah merestuiku berada disini, dengan do'amu yang maha ajaibnya, pun dengan materi yang selalu kau cukupi. Bagiku, restu Allah adalah restumu.
Aku belum bisa membalasnya, terkecuali dengan do'a dan terus belajar tentang kehidupan ini, sehingga aku bisa menjadi hamba-Nya yang bermanfaat terutama untuk kalian, Mah, Pak. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang tak terbendungkan.

Aku ingin menjadi kaya, dan orang paling kaya itu orang yang selalu mensyukuri apapun yang ia dapatkan. Maka, aku ingin banyak-banyak bersyukur, akan kesempatan hidup dan kesempatan untuk 'belajar' ini. Semoga kita menjadi orang kaya dimata-Nya, dan tidak menjadi orang yang 'sia-sia'. Apapun yang kita lakukan semoga diridhoi-Nya.

Terimakasih, aku sayang semuanya, Mamah, Bapak, Irfan. Selalu do'akan aku yaa...

Gegerkalong Girang, 08 Juni 2015
Dengan penuh cinta,


Dedeh Badrullaela
(Terimakasih telah memberiku nama ini,
nama yang maknanya begitu indah)

Rabu, 29 April 2015

Ketika di Tikar...

Circle time berakhir. Inilah moment luar biasa adik dan kakak, "group time".
Sebelum circle time berlangsung, kakak dan adik telah menyiapkan tikar untuk "group time" mereka. Lantas setelah circle time berakhir, tikar tersebut digelar dan duduklah adik dan kakak diatas tikar. Ada yang sempurna melingkar, ada yang persegi dan kebanyakan sih tak beraturan.
Di atas tikar inilah, group time berlangsung. Diawali dengan BBAQ dan.. hayo apa?

Hampir dua semester membina kelompok TeKa, saat-saat ini masih sering membingungkan. Oke, begini ceritanya ketika aku bersama partner kelompokku di tikar bersama adk-adik.

1. Saling bertanya kabar, ngobrol ringan sebagai pendahuluan. Biasanya waktu ini sangat menentukan mood adik.

2. BBAQ. Bagaimanapun caranya, ini waktunya BBAQ. Terlepas dari media dan metode apapun yang digunakan. Apakah dengan mengaji satu persatu, menggambar lalu diselingi dengan gambar huruf hijaiyah, dan sebagainya. Bagiku, ini sangat fleksibel disesuaikan dengan kondisi adik saat itu. Jika adiknya sedang mau mengaji, ya ikuti keinginannya. Jika adiknya sedang ingin bermain, carilah permainan yang bisa menyelipkan pelajaran BBAQ didalamnya.

3. Hafalan surat. Ketika semester 61, aku tidak begitu menekankan hal ini karena adik-adik kelompokku masih kecil dan pecah perhatiannya karena mereka sangat aktif (terutama adik putra). Akan tetapi, setelah kunjungan ke salah satu adik kelompokku, ternyata ia sangatlah bagus hafalan suratnya. Tentu hal seperti ini tidak boleh dibiarkan, harus di stimulus secara terus menerus. Alhamdulillah, ternyata partner kelompokku di semester 61 itu jauuh lebih memperhatikan akan penyampaian materi kepada adik, termasuk hafalan surat bahkan sebelum kunjungan ke adik kelompokku itu (kalau tidak salah ingat).
Di semester 62, adik kelompokku berusia 5-6 tahun. Bacaan iqra dan hafalan suratnya cukup baik dan sangat perlu distimulus terus menerus. Maka, aku dan partner kelompokku rutin mengajak mereka untuk membaca surat-surat pendek. Tidak semua mau mengikuti, tetapi aku yakin lantunan surat tersebut akan diproses didalam memori mereka.

3. BBAQ dan hafalan surat tidak berlangsung lama biasanya, mentoring kolosal pun belum dimulai. Inilah waktu "bebas"nya kelompok yang terkadang membingungkan bagiku. Ya, di waktu ini ada yang memilih berlarian di lapangan rumput, jalan-jalan disekitar Salman, dan bercerita. Semuanya juga sangat bermanfaat lho!
 - Berlarian di lapangan rumput -> akan melatih perkembangan motorik adik. Tidak semua adik lincah dalam berlari kan? Berlarian juga dapat melatih keterampilan berinteraksi sosial, karena yang namanya permainan akan melibatkan lebih dari satu orang. Permainan pun melatih perkembangan kognitif anak. Kata dosenku, perkembangan kognitif anak itu berkembang melalui bermain, karena bermain akan menstimulus kreativitas anak, imajinasi anak, dsb. Satu lagi, melatih ke-pede-an dan kemandirian anak, karena adik yang pemalu atau masih nempel sama orangtuanya akan susah di ajak bermain.

- Jalan-jalan di sekitar Salman -> wuih kalo ini akan memperkaya pengalaman adik, sangat! Ketika jalan-jalan, adik akan melihat banyak hal dan tentu saja sebagai kakak, kita harus mendukungnya dengan berbagai penjelasan. Melihat pohon, buah sukun, bunga, kucing, keong, orang-orang yang berlalu lalang, dsb. Biasanya, adik banyak belajar juga disini. Seperti minggu kemarin, ketika melihat tempat sampah yang ditempeli tulisan "sampah organik" dan "sampah anorganik". Ternyata, adik kelompokku belum tau bedanya. Setelah dijelaskan, mereka melihat isi tong sampah dan bengong "Kak, kenapa tempat sampah bekas makanan isinya plastik?" :3

- Bercerita/mendongeng. Aduhai ini yang paling membingungkanku tetapi aku tau ini sangat penting, karena disini kita sedang membina generasi rabbi radhiya (aamiin). Aku tau, banyak cerita baik itu dongeng, cerita anak, maupun kisah Nabi yang sangat pantas untuk disampaikan kepada mereka. Tetapi keterbatasan pengetahuan dan keterampilan bercerita didepan adik pun menjadi hambatannya. Pernah suatu ketika aku bercerita tentang kisah Nabi, mereka malah acuh karena memang menurutku juga caraku menyampaikannya tidak begitu menarik. Akhir-akhir ini, meskipun tidak dengan mendongeng secara utuh, aku tetap berusaha menyampaikan kisah. Seperti ketika melihat semut, aku bercerita tentang kehebatan Nabi Sulaiman. Ketika mereka jatuh (sakit) aku bercerita tentang kesabaran luar biasa Nabi Ayyub.

Ya, disini aku banyak belajar. Aku tidak se-expert kakak-kakak yang lain. Aku sering kikuk, tetapi inilah belajar. Aku banyak belajar dari mereka, adik-adik, kakak-kakak dan orangtua.

Alhamdulillah..

Ketika di tikar... itulah waktu emasku dan partner kelompokku bersama adik-adik. Manfaatkan dengan sebaik mungkin. Belajar....

Minggu, 08 Maret 2015

Aku, Disini..

Kuliahku sudah memasuki semester empat. Jadwal kuliahnya super banget, hanya dari senin-rabu, full. (Hanya?). Wuihh bagi kebanyakan mahasiswa, jadwal seperti ini asik banget untuk pulang kampung (jika tidak ada tugas). Bisa mudik empat hari!!!

Tidak demikian denganku, setelah lebih dari sebulan memasuki semester empat aku belum mudik
"Ketika teman-teman kampus membicarakan mudik dan saya tetap di Bandung, disitu kadang saya merasa sedih."
Loh, kenapa sedih? Tentu tidak. Aku bertemu dengan orangtuaku setiap hari -melalui benda canggihku. hehe. Selain itu, weekend-ku dihabiskan di Pembinaan Anak-anak Salman ITB (PAS-ITB). Merasa keren? Tentu tidak juga karena sebenarnya banyak juga mahasiswa yang ndak pernah mudik, hehe. Kalau tidak rumahnya jauh, pasti dia seorang aktivis. Akan tetapi, aku bersyukur karena Allah tempatkan di PAS-ITB. Setidaknya, "si aku" yang barugajul begini bergaul dengan orang-orang yang melangkah di jalan-Nya serta dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang sangat bermanfaat, insyaa Allah.

Memang keterlibatan di organisasi manapun tentu akan membutuhkan pengorbanan. Tidak hanya satu dua hal, mungkin tiga atau empat dan banyak lagi. Dari mulai waktu mudik dan jalan-jalan tersita (meskipun aku masih sering jalan-jalan koq, haha), waktu mengerjakan tugas terpotong untuk memikirkan organisasi, bolak-balik ngurusin ini itu, dan lain sebagainya.

Setiap apa yang kita lakukan akan ada konsekuensinya. Termasuk berorganisasi. Jika kita menjalaninya dengan baik dan sepenuh hati, tentu akan mendapatkan konsekuensi positif baik itu keluasan ilmu maupun ketenangan diri karena menjalaninya dengan hati yang senang. Sekalipun ada permasalahan yang harus diselesaikan, ketika kita menjalaninya dengan senang hati, maka yang kita terima tetaplah konsekuensi positif. Begitupun sebaliknya.

Di PAS juga, tidak semudah yang dibayangkan. Mahasiswa yang menjadi anggota pembina PAS berasal dari berbagai kampus di kota Bandung. Passion, kesibukan bahkan jarak ke Salmannya pun sungguh beragam, hehe. Mereka dengan sukarela datang ke Salman untuk membina adik-adik.
Kegiatan di PAS adalah pembinaan anak-anak dari mulai usia 3 tahun sampai kelas 6 SD. Pembinaan disini bertujuan untuk menciptakan generasi rabbi radhiya dan rahmatan lil 'alamin. Akan tetapi, pembinaan disini lebih bersifat menyenangkan, disesuaikan dengan perkembangan zaman dan disesuaikan dengan karakter anak-anak yang masih senang bermain-main, bebas dan penuh kreatifitas sehingga bentuk pembinaannya banyak yang berupa permainan edukatif. Aku sering membayangkan, ditengah kesibukan mahasiswa yang kian hari kian sibuk, akan tetap adakah mahasiswa yang berminat mengurusi organisasi seperti ini? Bukan tidak pernah, akupun sering bolos di organisasi ini karena ini itu, bahkan terkadang malas.

Aku mendapat jawaban dari salah satu orangtua adik yang dulunya pun seorang aktivis. Menurutnya, yang menyatukan mahasiswa dalam organisasi seperti ini adalah "niat" atau "tujuan". Ketika tujuan atau cita-cita setiap anggota sudah searah, maka mereka akan tetap bersemangat dalam organisasi tersebut. Beliau sangat senang dengan keberadaan PAS ditengah-tengah kemelut dunia pendidikan saat ini. Dengan tegasnya, beliau berharap organisasi ini tetap langgeng.
Masya Allah.. Semoga harapan dari salah satu orangtua adik ini terwujud.

Maka, masih adakah ketidakbahagiaanku ditengah generasi muslim yang bersemangat dalam "mencari tahu" banyak hal, ditengah orangtua yang mengharapkan anaknya "paham" akan banyak hal, ditengah kakak-kakak yang senantiasa menggandeng tanganku untuk tetap berada dijalan-Nya?

Aku bukan tidak ingin pulang, Mah, Pak. Aku akan pulang.. :)
Love you.. :)

Kamis, 06 November 2014

Inilah Hidup, Deh!

“Mamah, Bapa.. Bumi teh meni sararempit.” (Mamah, Bapa.. Rumahnya sempit banget.)
“Mamah, Bapa, tingali korsi na meni tos awon kieu.” (Mamah, Bapa, lihat kursinya udah jelek.)
“Mamah, Bapa, hoyong liburan atuh, bete dibumi.” (Mamah, Bapa, pengen liburan, bete dirumah.)

Dan berbagai keluhan lainnya tentang rumah, kendaraan, liburan seringkali aku dan adikku lontarkan kepada orangtua selama beberapa tahun terakhir. Memang, keluhan itu seringkali hanya sekedar candaan pun orangtuaku demikian.

Hari ini, berbagai peristiwa telah menamparku, menampar kebiasaan mengeluhku.
=====
Hidup tak se’simple’ yang kubayangkan.

Sejak aku berusia 3 tahun, orangtuaku sudah memiliki rumah. Meskipun sederhana, tetapi layak dihuni. Keluargaku hidup rukun. Tidak pernah ada pertengkaran yang berarti. Orangtua begitu menyayangiku, pun seringkali memberikan apa yang kuinginkan. Keluarga besarku pun demikian, mereka sangat menyayangiku.

“Simple. Hidup itu sederhana, aku hanya perlu sekolah sampai sarjana setelah itu mengajar seperti ayahku, mendapat gaji, menikah, mengurus rumah tangga, punya anak, mengasuh anak, simple kan?” Bayangku ketika masih kecil.

Selama hampir lima tahun merantau, pemahaman tersebut terus terkikis seiring semakin matangnya psikisku. Banyak kisah hidup yang membuatku bersyukur dan menyadari bahwa “hidup itu tidak mudah, butuh perjuangan.” tetapi sungguh, keluhku masih lebih banyak daripada syukurku.

Dan hari ini, aku mendapatkan pelajaran yang amat berharga tentang “hidup”.

=====
Bersama beberapa teman, aku mengunjungi rumah adik binaan. Letaknya masih di jantung Kota Bandung. Jauh dari apa yang kubayangkan, rumahnya amat sangat sederhana. Hanya ruangan kecil bahkan jauh lebih kecil dari kamar kost ku, dihimpit oleh bangunan-bangunan lain dan terasa sedikit lembab. Didalamnya terdapat tiga lemari baju berukuran kecil, satu lemari es, televisi di atas salahsatu lemari baju, dan perabotan rumahtangga lain yang disusun di atas lemari-lemari tersebut. Kompor dan peralatan masak lainnya disimpan diluar rumah, tepat didepan jendela yang otomatis sedikit mempersulit jalan masuk kerumah.

Adik binaan tersebut  terdaftar sebagai salahsatu adik beasiswa. Ia sangat cerdas. Aktif dalam kegiatan, ramah, selalu hormat kepada kakak-kakak pembinanya dan disekolahpun ia selalu masuk kedalam tiga besar. Tidak sedikitpun aku melihat pesimistis dalam sorot mata ibunya. Ia semangat mendukung kegiatan anaknya, memfasilitasi anaknya belajar –meski sederhana.

“Subhanallah, subhanallah, subhanallah” hatiku menangis, kesakitan. Bagaimana mungkin aku mengeluh dengan kondisi yang jauuuuuh lebih baik dan saaangat sangat harus disyukuri.

======
Kunjungan kedua dihari yang sama, pun di lokasi yang berdekatan dan kondisi yang nyaris sama. Adik tersebut adalah adik beasiswa juga. Sungguh pintar. Selain hobi bermain sepakbola, ia sangat tekun mempelajari al-Qur’an dan menghafalnya. Ia tinggal di kostan bersama ibunya. Hanya berdua. Orangtua mereka berpisah ketika usianya menginjak 6 bulan dan sang ayah tidak pernah menemuinya lagi. Padahal ‘kelahiran sang anak’ sangat ditunggu-tunggu, bahkan mereka menunggu sampai 15 tahun untuk dikaruniai seorang anak. Tetapi setelah Allah menjawab do’a-do’a mereka, sang suami pergi bersama perempuan lain dan sang istripun berdiri paling depan dalam mendidik dan membesarkan anaknya, tegar sekali.

Subhanallah... Kurang apalagi kamu, Deh? Sudah dikaruniai keluarga yang sangat menyayangi, difasilitasi untuk setiap keinginan dan cita-citamu. Akankah kamu tetap mengeluh? Malu, sangat malu.

=====
Dulu, aku hanya melihat kondisi demikian dalam televisi. Hari ini, Allah memperlihatkannya langsung didepan mataku pun dalam kehidupanku (karena mereka bagian dari hidupku).

Hari ini, Allah memberi peringatan kepadaku, halus sekali namun cukup membuat hatiku sakit, sakit sekali. Betapa hidup itu tidak semudah yang kubayangkan. Betapa amat banyak nikmat Allah yang luput dari syukurku. Betapa dzalimnya aku, betapa oh... aku bukan siapa-siapa dan belum mampu melakukan apa-apa.


Alhamdulillah, alhamdulillah. Allah mempertemukanku dengan mereka, sungguh bahagia yang amat mendalam. Alhamdulillah. “Maka nikmat Tuhan-Mu yang mana kah yang kamu dustakan?”.

Buka Mata Hati, Luruskan

Tak ada yang abadi, memang
Termasuk pencarian kebenaran

Dulu kita membenarkan apa yang kita anggap benar
Menurut pengalaman belajar kita
Dan belum tentu itu benar –seutuhnya

Dulu kita belajar apa itu benar
Lalu sekarang menyalahkan yang benar
Dan membenarkan yang salah

Belajar tidak ada batasnya
Lihatlah lebih luas
Bukan hanya dari sudut pandang yang kita miliki
Benarkan yang benar
Salahkan yang salah

Kita tidak kalah karena salah
Selama masih ada kesempatan
Kita kalah kala membenarkan yang salah
Dan menyalahkan yang benar

Aku sakit hati melihat caramu menatap perjalanan kita, kala itu

Ayolah, masih ada kesempatan, kawan..

Gegerkalong Girang, 5 Nov’ 14
Ditulis dengan penuh cinta,
Dariku, untukmu, kawan

Mari buka mata hati..

Rabu, 24 September 2014

Kamu, Dia, Kalian ~

Entah dari mana awalnya, tetiba aku jatuh cinta pada lagu ini, atau lebih tepatnya the lyrics of the song. Seperti biasa, lagu yang kusukai pasti mewakili perasaanku, sekarang maupun di masa lalu. Seperti lagu ini,

Kita bermain-main, siang-siang hari senin
Tertawa satu sama lain
Semua bahagia, semua bahagia

Kita berangan-angan, merangkai masa depan
Dibawah kerindangan dahan
Semua bahagia, semua bahagia

Matahari seakan tersenyum


Walau makan susah
Walau hidup susah
Walau tuk senyumpun susah
Rasa syukur ini karena bersamamu juga susah dilupakan

Kita berlari-lari, bersama mengejar mimpi
Tak ada kata tuk berhenti
Semua bahagia, semua bahagia

Kamu, dia, kalian, yang membersamaiku di perantauan tiga tahun paling berkesan dalam hidupku, there's experiences and knowledges, so much and so valuable.. I think it's sweetest memory..


dan kamu, dia, kalian yang menemaniku di perantauan tahun keempat paling bermakna, kalian yang bagiku; perapian dikala ku menggigil kedinginan


Dua periode perantauan itu titik dimana transisi amatlah berpengaruh pada diri pribadi, mindset, dan jalan hidup yang kupilih.

Terimakasih Allah,
Terimakasih kalian,
Terimakasih.

Kamis, 18 September 2014

Bahagia itu...

Bandung. Kota sejuta angkot. Tak usah khawatir jika tersesat, karena di kota ini angkot ada dimana-mana. Setahun merantau di kota Bandung, aku sudah terbiasa dengan ribuan angkot puluhan jurusan, sudah terbiasa naik turun angkot mencari alamat. Sebenarnya mudah saja untuk menemukan alamat dan akan menyusurinya menggunakan angkot. Kita hanya perlu tiga hal:

1.      GPS
2.      Koneksi untuk melihat rute angkot Bandung.
3.      Keberanian.
Tentu saja, hal ketiga yang paling utama.

Sore itu, polusi kendaraan serta aroma sampah lengkap menemaniku menuju angkot di seberang jalan Ganesha, angkot jurusan Cicaheum-Ledeng arah menuju Ledeng. Sesak didalam angkot? Sudah biasa. Kulirik penumpang disebelahku, terpaku pada gadget masing-masing, sibuk dan serius sekali. Tidak jauh berbeda denganku yang terpaku pada buku yang kubaca, malas sekali rasanya berinteraksi dengan yang lain. Sampai akhirnya...

Hey! Ada sepasang suami istri paruh baya dengan pakaian sederhana dan barang bawaan yang sedemikian banyaknya. Menarik sekali karena dengan kondisi mereka yang demikian serta diantara wajah-wajah yang masam dan tak peduli, mereka berbicara dengan santai dan senyum mereka, aduhai tulus sekali, penuh cinta. Bahagia. Akupun menyimpan kembali buku-ku dan berusaha memperhatikan sekitar dengan sesekali melempar senyuman.

Memang, bahagia itu sederhana.
Seperti hariku disana. Bahagia menatap wajah anak-anak kecil yang lucu nan polos. Menatap mereka yang asik berlarian kesana kemari, tanpa beban. Membiarkan tangan ini digenggamnya, memberikan rasa aman, mengantarnya berlari kesana kemari. Membiarkan ia terduduk dipangkuanku, bermanja-manja lantas bercerita. Sungguh lucu. Senyuman, tangisan maupun ngambek-nya. Bahagia.

Memang, bahagia itu sederhana.
Hmm nyatanya “bahagia” tidak mesti ditafsirkan pada kondisi nyaman yang didasarkan pada kenyamanan finansial. Bahagia itu dekat, bahagia itu bisa kita manage. Bahagia itu kelapangan hati tatkala berusaha menyingkirkan berbagai penyakit hati; iri, benci, ambisi akan duniawi yang pada akhirnya hanya melahirkan kegelisahan.

Allah. Ketika ada Dia, sungguh bahagia semakin nyata. Allah, tak bisa dispelekan. Allah, ampuni aku ketika kala itu, diri ini tak mendekatimu.

Bahagia itu sederhana. Sesederhana berbagi senyuman tulus kepada orang lain, kepada binatang bahkan kepada masalah yang kita hadapi. Sesederhana menumpangi angkot. Menatap berbagai warna kehidupan, mendengar berbagai irama kehidupan, lantas bersyukur kepada-Nya. Bahagia.

Senin, 15 September 2014

Dia Mengerti

Tanpa ampun, matahari menyengat bumi, semaunya. Jika saja atmosfer tidak cukup kuat untuk melindungi  bumi dari panasnya matahari, umm sepertinya sudah terbakar dan musnahlah.

Hmm bumi mengerti, matahari tidak bermaksud membakarnya, karena jika matahari tak ada, pohon-pohon dan bunga-bunga tak akan hidup sedangkan darisanalah oksigen terlahir. Jelas, bumi sangat mengerti maka ia tak berkutik, hanya terus menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Bukan, bukan ia tak mempedulikan panas yang menyengat, bukan. Bukan ia tak merasakan , hanya ia mengetahui bahwa meracau takkan menghilangkan panas yang ia rasa.

Hidup bumi tidak mudah. Sudah ia disengat matahari dan berjuang dengan dilindungi atmosfer, eh manusia tak tahu diri membuat berbagai teknologi pembaharu yang pada akhirnya membahayakan bumi. Ah, betapa rumit hidupnya, namun inilah bumi. Ia tetap menjalani kehidupan sebagaimana skenario Tuhan. Ia tetap berputar mengelilingi matahari sebagaimana perintah Tuhan, demi keseimbangan alam. Jika pada akhirnya ia bereaksi dengan menggoncangkan dirinya atau menggetarkan lautan hingga tumpah cairannya, itu bukan kebencian, hanya ia memiliki batas kekuatan.


Ia mengerti, itu saja.

Jumat, 08 Agustus 2014

Tigasembilan-nya Mamah

Setiap ibu tentulah selalu istimewa dimata anaknya. Begitupun aku pada Mamah. Diusia 18 tahun lebih sekian bulan rahimnya telah terisi janin dan diusia 19 tahun lebih sekian bulan pula dia telah melahirkan seorang bayi perempuan, ya tentu saja itu aku. Hey, diusia yang sama denganku saat ini dia telah merasakan bagaimana suka dukanya mengurusi rumah tangga, beratnya hamil, sakitnya melahirkan dan senangnya menimang-nimang bayi. Diusia itu bahkan aku masih berkeliaran di perantauan, bepergian kesana kemari bersama teman-teman, asyik menikmati masa muda. Ya, mungkin karena kita berada pada zaman yang berbeda, Mah.
Dikarenakan usia kami yang tidak terpaut terlalu jauh, banyak yang mengatakan kami nampak seperti adik kakak. Maka ketika berkomunikasi seringkali aku merasa seperti kepada teman saja, curhat persoalan sekolah, curhat masalah hati (eaaa), saling mengomentari penampilan, dan lain sebagainya. Meskipun tentu saja Mamah sering mengomeliku dan menasihatiku layaknya ibu Tom dan Jerry di film I’m Not Stupid (tidak separah itu juga sih).
Tepat di hari ini, perempuan yang paling istimewa dalam hidupku ini berusia 39 tahun. Ibuku yang kerap kupanggil Mamah. Sudah semakin tua meski kata orang masih terbilang muda tetapi nampaknya sudah pantas menimang cucu (kode :D).
Meski aku sering kesal karena sikapnya yang kadang terlalu protektif terhadap anaknya –terutama kepada adikku- dan sering sekali mengomel, namanya juga ibu ya aku tetap sayang. Sayang bingits. Dibalik kebisuanku untuk memujinya, aku menyimpan kekaguman yang amat mendalam terutama sosoknya yang lincah sekali dalam mengurusi rumah tangga dan juga pekerjaannya. Khawatir sekali ada sikap dan perkataanku yang tidak berkenan dihatinya, maka aku memohon maaf sedalam-dalamnya (waktu lebaran :3).

Semoga Mamah tetap menjadi perempuan tangguh, istri sholehah dan ibu yang –semakin- “baik hati”. Tentu saja Mamah tidak akan membaca tulisan di blogku ini, haha.

Kamis, 07 Agustus 2014

Setahun Sudah ~

Setahun sudah...

02 Juni 2013, setahun lebih dua bulan sekian hari yang lalu, hari peresmian ku sebagai alumni Pondok Pesantren Darussalam. Yeah aku lulus jenjang SLTA. Umurku masih 18 kala itu. Usia dewasa ya? Hmm entah ada atau tidak kedewasaan itu pada diriku.

Setelah itu adalah masa ‘kegalauan’ untuk menentukan dimanakah perantauanku selanjutnya? Singkat cerita, aku berhasil memasuki perguruan tinggi yang aku inginkan plus jurusan yang aku inginkan pula. Maka, ramadhan tahun lalu tersibukkanlah aku dengan persiapan untuk perantauan kedua ini. Registrasi-lah, cari kostan-lah, persiapan ospek universitas serta mempersiapkan barang-barang yang akan mengisi kostan ku nanti. Tak terbayang perasaanku saat itu, ketika hati masih terpaut pada pondok dan kini harus merantau seorang diri? Hmm..

20 Agustus 2013..

Tadaaa... Hai Bandung, aku penduduk baru mu.
Dengan diantar kedua orangtua, adik dan kakekku tibalah aku di kota ini. Kata orang sih, kota kembang, maksudnya apa ya? Apakah banyak kembang (bunga)? Entahlah aku tidak peduli, yang aku pikirkan saat itu hanyalah membereskan barang-barang di kamar baruku. Hey, kamar baru? Aku sungguhan akan merantau seorang diri di kota ini? Tidak lama lagi orangtuaku pulang ke kota asalku, sanak famili yang ada di Bandung (yang kala itu menemui ku di kostan baru) pun satu persatu kembali ke kediamannya masing-masing.

Kurang lebih tiga jam kemudian, kedua orangtua, adik dan kakekku pun berpamitan. Meskipun tiga tahun aku merantau tetapi kali ini dada serasa sesak menahan tangis persis seperti tiga tahun yang lalu di perantauanku yang pertama kalinya. Hmm mungkin wajar, karena tempat perantauanku kali ini teramat jauh dari kampung halaman, lagipula dua bulan terakhir ini kuhabiskan dirumah -yang selama tiga tahun terakhir tidak pernah tinggal dirumah selama lebih dari dua minggu.

Selanjutnya, dingin lah yang kurasa memenuhi hari-hariku di kota ini. Ya, kota ini memang dikenal dengan suhu udaranya yang dingin terlebih daerahku yang berada di kaki gunung (sepertinya). Berhari-hari, berbulan-bulan kemudian dingin itu sudah tidak begitu menyiksaku. Mungkinkah aku sudah kebal dengan dinginnya Bandung?

Selain suhu udara, dingin lain yang kurasakan dikarenakan kekosongan hati tanpa ada yang mengisi, menghangatkan, menyelimuti seperti biasanya. Bagian hati ini bagian hati untuk sesamaku, bukan bagian hati untuk Tuhanku. Setiap hari kuhabiskan dengan berkeliling di dunia maya, merapikan kamar dan melengkapi isinya, ospek, kuliah, baca novel, jalan dan bagian yang paling kutunggu adalah menelpon teman-teman pondokku, teman satu jurusan, teman satu kelas, Program Keagamaan. Benar, aku belum move on. Hatiku masih terpaut erat dengan mereka yang selama tiga tahun terakhir merupakan orang terdekatku, mungkin aku katakan mereka keluarga kedua ku. Selama tiga tahun terakhir, mereka-lah yang setiap hari membersamaiku sejak bangun tidur hingga tidur lagi di semua aktifitas dan di semua keadaan. Senang, sedih, marah, berantem, bercanda, setelah kepada Tuhan, kepada mereka lah semua rasa ditumpahkan, begitupun sebaliknya.

Suatu hari, aku mendapatkan pencerahan (cielah~) dari salah seorang kakak kelas, katanya kurang lebih seperti ini “Bandung memang dingin. Kita tinggal memilih apakah kita akan menyalakan perapian yang menghangatkan atau malah membiarkan jendela terbuka?” (Maaf jika redaksinya salah ya, Kang Ambang haha). Dalam hati, aku mengamini kalimat itu. Selama ini aku sendiri yang membiarkan jendela terbuka hingga udara dingin merasuki hatiku. Kenapa tidak mencari perapian saja?

Akhirnya kutemukan perapian itu. Tepatnya di jalan Ganesha aku menemukannya. Ya, PAS-ITB yang menjadi perapianku hingga saat ini. Kehangatan persaudaraan, kebersamaan -bersama dijalan-Nya, keceriaan dan kehangatan lain serta tentulah kehadiran adik-adik yang lucu dan menggemaskan. Alhamdulillah, alhamdulillah mereka –kakak-kakak PAS-ITB- menjadi perapianku dikala aku menggigil dengan dinginnya Bandung.

Memang benar, ketika saat ini dinginnya udara Bandung tak begitu menyiksaku maka belum tentu suhu udaranya yang semakin panas. Boleh jadi, tubuhku sendiri yang sudah kebal dengan dinginnya atau sudah mengetahui bagaimana cara mengatasi dinginnya tersebut.

======

Setahun sudah...

Bagaimana kabar studiku?
02 September 2013, hari pertama masuk kuliah. Rasanya? Biasa saja. Hanya ada aku yang lebih serius dari biasanya. Bagaimana tidak? Terkejut dengan mata kuliah yang akan kuhadapi terutama Anatomi, Fisiologi dan Genetika. Anatomi? Anatomi tubuh gitu? Menyebutkan bagian tubuh, bagian tulang gitu? Fisiologi? Apapula ini? Genetika? Ngomongin sel-sel saraf? Apasih aku tidak mengenal kalian (-_-) . Keringat dingin mengucur ketika mata kuliah ini berlangsung. Sang dosen yang seorang dokter itu –mungkin- menganggap semua mahasiswa mengenal dasar-dasarnya. Maka dengan lincahnya beliau langsung menjelaskan pembahasan yang lebih tinggi -menurutku- dengan gaya berbicara yang dua arah, tentu saja aku tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya, aku hanya sibuk berkutat pada buku –yang tidak kumengerti- dan sibuk mencontek catatan teman sebelah.

Alhamdulillah, semester satu kulalui dengan lumayan serius meskipun hasilnya tidak begitu memuaskan karena banyak teman-temanku yang meraih nilai jauh diatasku. Tak apa, kuakui kelemahanku dan nilai sekian sudah lebih dari memuaskan dibanding kemampuanku yang hanya setitik.

Semester dua, aku mulai mendekati perapianku. PAS-ITB. Hey, malah lebih nyaman berada disana, berjumpa adik-adik pula. Alhasil, kuliahku terasa datar saja. Berangkat kuliah, belajar, pulang. Jika ada tugas ya kerjakan (itupun sering mepet deadline). Setelah itu, aku mengikuti kegiatan-kegiatan di PAS –ya meskipun aku nampak seperti anak bawang :3- . Ketika banyak rekan yang absen kegiatan PAS karena mengerjakan tugas, maka itu tidak berlaku untukku. Mengerjakan tugas ya malam hari, jangan sampai mengganggu kegiatan PAS. Haha. Entah benar atau tidak mindset ku itu namun bersyukur semua tugas dapat kuselesaikan meskipun ngasal dan mepet deadline. Hasil akademik semester ini pun tidak begitu jelek.

Hmm...
Mungkin beginilah rasanya akan memasuki tingkat dua. (Memang bagaimana? Apa perbedaannya?) Jawabannya adalah tidak ada bedanya. Haha. Kuliah? Mengikuti alur saja. Doyannya? Bepergian kesana kemari, maen ke tempat-tempat yang belum pernah kusinggahi, ikut kegiatan ini dan itu –terutama kegiatan PAS tentunya-. Sampai-sampai informasi nilai semester dua, bayar UKT, mengontrak mata kuliah, dan lain sebagainya mengenai urusan akademik kampus, aku percayakan kepada teman-temanku, yang pada akhirnya KRS pun lupa aku download dan printout. Terlenakan sekali dengan sistem akademik yang serba online ini. (Terimakasih teman-teman PKh 2013 yang senantiasa saling membantu, terutama Dwi, Yeni, Nurul yang paling sering aku kepo-in).

Entah akan seperti apa studiku di tingkat ini. Apakah tidak ada kekhawatiran di benakku? Oh tentu sangatlah khawatir, melihat nama mata kuliah yang aneh-aneh saja membuatku merinding membayangkan nilai yang berada dipinggirnya nanti. Memperhatikan para mahasiswa tingkat akhir yang berkejaran dengan deadline TeA atau skripsweet mereka, aku terbengong. Bagaimana aku nanti? Bukankah harus disiapkan sedini mungkin dengan kuliah yang serius? Hmm...


Baiklah, setahun sudah perantauanku di Kota Bandung dan aku telah jatuh cinta padanya. Tentulah berharap sekali tahun selanjutnya lebih bermakna lagi, lebih serius lagi menghadapi studiku, bisa hidup lebih mandiri dan bermanfaat bagi orang banyak. Bahkan siapa tahu kutemukan jodohku disini? Eits, jodoh pekerjaan maksudnya. Eummhh boleh deh jodoh kehidupan juga. Haha.

Jumat, 16 Mei 2014

Cinta-Mencintai

“Kamu kuliah di UPI ya ?
“Yap”
“Wah, calon guru nih”
“Engga sih, sebenarnya aku ga tertarik jadi guru.”

Kalimat percakapan yang terakhir itu, seringkali terdengar dari mahasiswa di kampus saya sendiri yang jelas sekali merupakan salah satu kampus pencetak guru di Indonesia. Sedikit miris mendengarnya (kecuali jika ia memang berada pada jurusan non pendidikan). Cobalah kita berfikir lebih jernih.

Untuk apa ada perguruan tinggi pencetak guru?

Jelas untuk melahirkan guru-guru terbaik yang kelak akan mendidik generasi muda Indonesia.

Ah tidak juga, yang terpenting kan mahasiswa di perguruan tinggi tersebut belajar, mendapatkan ilmu, terserah nantinya mau jadi apa yang penting bermanfaat.

Ya, memang itulah yang paling utama. Belajar. Tetapi tidakkah berpikir, jika memang tujuannya bukan untuk menjadi guru, kenapa tidak masuk perguruan tinggi lain yang sesuai passion kita saja?

Saya terpaksa kuliah disini, karena saya gagal di perguruan tinggi yang saya inginkan.

Jika sudah terpeleset demikian kenapa tidak berusaha mengikuti jalan yang saat ini jelas sekali ada dihadapan kita? Mungkin saja diluar sana banyak sekali orang yang ingin sekali berada pada posisi kita seperti kita yang ingin berada pada posisi mahasiswa di perguruan tinggi yang kita inginkan. Bukankah sebaiknya kita menenggelamkan diri dalam perguruan tinggi atau jurusan yang Tuhan pilihkan ini, senantiasa berenang hingga sampai pada tujuan? Lantas, tidak lupa berdo’a, semoga mahasiswa yang berada pada posisi yang kita inginkan sebelumnya pun bertanggung jawab dengan jalannya saat ini dan mampu menjadi apa yang kita cita-citakan tersebut.

Tetapi lulusan dari jurusan/perguruan tinggi ini ga harus jadi guru kan? Bisa jadi dosen atau apapun yang masih terkait pendidikan?

Betul sekali. Tetapi dasar kecintaan terhadap profesi guru haruslah tetap diutamakan, karena itulah dunia kita sekarang (ketika kuliah) dan mungkin nanti ketika mendapatkan pekerjaan. Meskipun jika pada akhirnya profesi kita tidak linear sama sekali, setidaknya kita telah mencintai jurusan yang kita ampu dengan segala apa yang terdapat didalamnya, termasuk profesi.

Pemahaman seperti ini bukan hanya untuk perguruan tinggi yang saya ceritakan diatas saja, ini hanyalah sampel. Pada perguruan tinggi lain pun seyogyanya urusan profesionalitas ini diperhatikan. Bagaimana jadinya jika kita mengambil lapak orang lain, sedangkan sudah jelas sekali dari perkuliahan yang kita tempuh itu prospeknya kemana.

Saya pernah menemukan seorang yang tidak begitu minat terhadap dunia pendidikan, minat tingginya terhadap dunia seni. Kemudian karena tidak ada pilihan lain, ia kuliah di jurusan pendidikan. Lantas, ia kuliah dengan semaunya. Kebetulan saat PPL ia mengajar di kelas saya,saat itu saya kelas 2 SMA. Tidak ada sedikitpun wibawa “calon guru” yang beliau tampakkan. Tak lebih dari masuk kelas, membacakan materi, menyuruh berdiskusi sendiri, sedangkan beliau duduk manis di kursi guru sembari memainkan gadgetnya. Suatu waktu, diskusi kami tidak berujung karena ada hal yang sulit kami mengerti. Lalu bertanyalah kami kepada beliau. Semenit dua menit beliau meminta waktu sembari terus saja membuka lembaran buku pelajaran tersebut. Padahal kami tahu persis penjelasan tersebut tidak ada didalam buku pelajaran karena kamipun sudah mendiskusikannya sedari tadi.  Pada akhirnya beliau memohon maaf dan mengakui bahwa beliau pun belum memahaminya. Disaat yang lain, dengan sedikit “usil” temanku bertanya tentang materi yang sebenarnya cukup mudah dan terdapat dalam buku pelajaran. Seperti sebelumnya, jawaban beliau kurang memuaskan. Lantas salah satu dari kami menjelaskan dan membuat beliau nampak berkeringat dingin.

Saya dan teman-teman sungguh kecewa, karena nampak jelas guru PPL tersebut tidak bertanggungjawab terhadap profesinya. Bahkan membaca materi yang akan disampaikan pun tidak.

Sekali lagi, urusan cinta mencintai adalah hal yang mendasar. Terlepas dari profesi yang kita dapatkan pada akhirnya. Sudah semestinya kita bertanggungjawab atas apa yang ada dihadapan kita saat ini. Jangan sampai disia-siakan atau dikesampingkan.

Tuhan Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah:216)

Selasa, 29 April 2014

Metamorfosis (part 3)

Ya, di pos empat yang bertempat di Pondok Pesantren Nurul Huda ini, kami disambut oleh ka Noti, ka Idris, ka Deni, ka Ayu dan ka Lusi. Ternyata di pos ini kami dilatih untuk lebih disiplin. Kakak-kakak PAS lebih tegas, dan tentu saja aku sedikit aneh dengan suasana ini. Kakak PAS yang biasanya rame, riang, sekarang jadi kaku dan memasang wajah yang kurang bersahabat. Kami dipermasalahkan karena kertas yang hanya ada 12. Kami diberi pilihan untuk kembali ke pos tiga atau yang lulus hanya aku saja. Loh, aneh kan ? Pada akhirnya kakak-kakak PAS tersebut memperbolehkan kami mengganti 2 kertas yang hilang itu dengan sebuah komitmen. Ketika aku hendak mengusulkan sesuatu, adzan berkumandang dan pada akhirnya kami melaksanakan shalat dzuhur dan mengikuti kegiatan selanjutnya.
Kertas yang diambil dari pos tiga itu ternyata berisi beberapa kasus, masalah dan kami diminta untuk memberikan solusinya. Sudah kuduga, kegiatan selanjutnya lebih serius. Solusi kami tidak diterima oleh ka Apip, kertas yang berisi solusi tersebut disobek. Ada beberapa kakak larva yang memperjuangkannya. Aku ? Malas sekali terlibat dalam sandiwara ini, hehe. Tetapi ketika di lapangan futsal dan sandiwaranya semakin panas, aku tidak tahan untuk berbicara. Disana, parah banget lah. Aku sadar, kakak larva masih banyak yang egois dengan pendapatnya masing-masing. Namun, pada akhirnya kami memutuskan untuk membuat barikade dan memaksa untuk menemui ka Ifan yang dihalangi oleh kakak-kakak PAS. Jika boleh jujur, bagian inilah yang paling membosankan bagi ku karena aku memang tidak begitu suka hal seperti itu. Hehe. Maaf kakak-kakak. Rasa bosan itu hanya hinggap sesaat karena tanggapan dari Ifan sungguh luar biasa. Pada intinya, ka Ifan mengatakan bahwa apa-apa yang sudah kami lakukan itu belum seberapa dibanding perjuangan Rasulullah ketika berdakwah. Terharu banget lah saat itu, aku jadi merasa bersalah karena malas-malas mengikuti sesi yang terakhir ini.
Setelah ka Ifan menyampaikan tanggapannya tersebut, ka Ifan langsung melantik kakak larva, bermetamorfosis menjadi kakak SEMUT (semester 61). Saat itu, langit seakan mendukung suasana tersebut dengan turunnya hujan. Kakak-kakak PAS mengelilingi kami, saling bergandengan tangan, menyanyikan mars PAS. Huwaaaa...antara senang dan sungguh terharu berada ditengah-tengah PAS, ditengah orang-orang yang peduli terhadap agamanya, terhadap generasi penerusnya. Mataku serasa panas menahan airmata yang tak ingin kubiarkan tumpah. (Malu dong, :D ) Kakak PAS menyalami kami satu persatu. Duhai, terharu.
Rangkaian OBT pun selesai. Setelah makan siang, kami bersegera pulang dan masih harus melewati jalanan ekstrem. Tanjakan yang sungguh menyeramkan. Haha. Tetapi lelah pun tak terasa ketika hati merasa bahagia. Terimakasih kakak-kakak PAS juga kakak-kakak SEMUT. Jangan lupa dengan komitmennya ya, kakak-kakak SEMUT. Mari kita melangkah bersama !! Yeaaahh.

Terimakasih Allah, telah mengenalkanku pada mereka. Sungguh, “Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kamu dustakan ?”. Allah memberiku kesempatan untuk terus belajar banyak, dari PAS-ITB khususnya :D

Metamorfosis (part 2)

Nah, muhasabah berlangsung hingga pukul 04.00. Ketika aku membuka mata, wah ternyata banyak lilin dan aku suka suasana itu. Tetapi karena waktu sudah semakin pagi kami pun segera bergegas menuju mesjid untuk melaksanakan qiyamullail.
Rasanya waktu bergulir semakin cepat, padahal tetap satu menit enampuluh detik. Yap, saatnya OBT dan hati-hati mengatakannya, jangan jadi O BeTe, haha *apasih*. Sebelum kita menuju lokasi OBT yang masih dirahasiakan, tentunya sarapan dulu. Barulah sekitar pukul 07.00 atau 07.30 kami circle time di lapangan rumput dengan dipandu oleh ka Dwi. Lantas mulai diberangkatkan kelompok demi kelompok dan kelompokku, kelompok no. 1 mendapat giliran terakhir. Huaaaa bete sih, tapi tak apa karena selama penantian itu (cielah) kami mendengarkan cerita-cerita dari ka Ellis dan ka Dinur tentang acara besar. Yeeeee.
Dan pada akhirnya, kamipun berangkat menuju lokasi OBT di Taman Budaya dengan dibekali sesuatu oleh ka Liya untuk menunjang keberangkatan kami. :D
Setibanya di pos pertama, materinya adalah tentang Psikologi Amat karena disana ada ka Amat, jika tidak ada jadi Psikologi Anak (begitulah kiranya kata ka Idris). Kami diminta untuk menangani kasus adik yang masih nempel kepada orangtuanya dan adik yang enggan mentoring. Seru deh, karena yang jadi adiknya adalah ka Idris dan ka Aul *loh :D
Setelah selesai di pos pertama, kami dipersilahkan menuju pos selanjutnya di PLTA yang entah dimana, tetapi ternyata ada penunjuk jalan koq ! hehe. Wah ternyata dipinggir sungai lho!! Materinya tentang ke-PAS-an oleh ka Igna dan ka Uril. Dan kami bisa menyelesaikannya dalam waktu beberapa menit saja. Horeeee (^^)9
Tetapi, tidak cukup sampai disitu. Kami diminta untuk menyebrangi sungai, tentu tidak boleh lewat jembatan. Huwaaaa ini yang kutunggu-tunggu selain hutan dan jalanan curam, :D
Satu persatu anggota kelompokku pun turun. Mungkin tak semua memiliki perasaan yang sama denganku, karena ada juga yang nampak ragu untuk melangkah *cielah*. Nah itulah peran penting kelompok, kebersamaan. Kami melangkah bersama, berpegangan tangan, saling membantu hingga akhirnya kita sampai di atas. Sebenarnya kalau boleh minta, ingin sekali rasanya berlama-lama di sungai itu, meloncat dari batu yang satu ke batu yang lainnya, merasakan dinginnya air sungai (meski tak bisa dikatakan jernih).
Kamipun menuju pos selanjutnya, pos ketiga. Tracknya lumayan menantang, :D  tetapi seru lho !! Jarang-jarang kan jalan ke hutan seperti itu. Hihi. Di pos ketiga ini, ada ka Cakra dan ka (maaf lupa lagi namanya -_-). Tugasnya adalah membuat media pembelajaran dan mensimulasikannya. Kamipun membuat kapal-kapal-an sebagai media untuk mendongeng, meski gaje ya itulah media pembelajaran dadakan kami. Hehe.
Sebelum menuju pos selanjutnya, kami diminta untuk mencari 14 kertas dengan warna yang sama di kuburan. Huooo horror (engga juga sih, kan siang hari :D ). Kami hanya menemukan 12 warna biru, dan itu jadi permasalahan di pos selanjutnya.

-to be continued-

Metamorfosis (part 1)

Jum’at, 25 April 2014
Terik sekali siang itu, ketika aku bersama salah seorang kakak larva juga, ka eNJe, berpamitan pulang dari sebuah perkumpulan. Saat itu, jam di ponsel menunjukkan 14.40. Kami segera bergegas, karena pukul 16.00 harus sudah berkumpul di paving blok Masjid Salman untuk mengikuti rangkaian terakhir PKB di PAS ITB yaitu OBT dan kakak larva 61 akan segera bermetamorfosis jadi SEMUT. Yeeeaah.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.40 ketika aku dan ka eNJe berangkat menuju Salman. Deg-degan, takut telat, membayangkan rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan, itulah yang mengisi pikiran ku saat itu.
Seperti biasa, waktu yang dibutuhkan untuk ngangkot tidak bisa diprediksi. Kami tiba di Salman sekitar pukul 16.30. Telat. Namun, betapa terkejutnya ketika mendapati di paving blok hanya terdapat 4 kakak larva. Duh, masa cuma berenam sih ? Seiring berjalannya waktu, kakak-kakak larva yang lain pun berdatangan. Syukurlah. Dan agendanya sore itu adalah “Manasik” alias “makan-makan asik”. Asik ? Makannya sih asik, tapi masaknya itu lhooo... (alibi selaku yang ga bisa masak, haha). Manasik ini adalah lomba masaknya kakak larva. Beruntung kakak kelompokku pada pinter masak, dan rasa masakannya sangat unik sampai-sampai para juri mencicipinya sembari memejamkan mata. Haha. Dan kelompokku pun mendapatkan juara favorit. Yeeeee. Yang pada akhirnya kuperkirakan terfavorit itu karena kita tidak masuk kategori “ternyata enak” dan ter-apalah satu lagi aku lupa. Baiklah, tak apa.
Setelah Manasik, kakak-kakak PAS menayangkan sebuah video dokumenter selama  PKB. Wah tak terasa sudah 6 pertemuan yang berarti sudah hampir 2 bulan. Bagiku, ini hal yang sungguh menyenangkan ! Sayang sekali banyak kakak larva yang melewatkannya karena kesibukan lain.
Sekitar pukul 21.30 kakak larva dipersilahkan untuk beristirahat dan mencharge energinya untuk OBT esok hari. Katanya sih, jauh dan melelahkan. Lantas kamipun tertidur meski aku sendiri susah tidur karena entah kenapa. Hingga pukul 02.30 kakak-kakak PAS dibangunkan dan mereka diam-diam berkumpul. Ya, aku tidak sepenuhnya tertidur sehingga bisa mendengarkan sayup-sayup suara kakak PAS di GSG. Sepertinya mempersiapkan untuk muhasabah, karena jika tidak salah ada agenda itu. Hihi. Pukul 03.00 sepertinya kakak PAS akan membangunkan kakak larva, akupun segera kembali memejamkan mata, berpura-pura tertidur. Dan benar saja, kami dibangunkan, lalu dengan menutup mata kami dipandu untuk menuju suatu tempat, tentu saja GSG, hehe. Dan benar juga, agenda kali itu adalah muhasabah. Dengan keadaan mata yang masih ditutup, kakak-kakak PAS mulai menyampaikan kalimat demi kalimat muhasabah yang membuat kakak larva menangis bahkan ada yang sampai tersedu-sedu. Subhanallah. Menangis karena mengingat Allah.

-to be continued-