Selasa, 29 April 2014

Metamorfosis (part 3)

Ya, di pos empat yang bertempat di Pondok Pesantren Nurul Huda ini, kami disambut oleh ka Noti, ka Idris, ka Deni, ka Ayu dan ka Lusi. Ternyata di pos ini kami dilatih untuk lebih disiplin. Kakak-kakak PAS lebih tegas, dan tentu saja aku sedikit aneh dengan suasana ini. Kakak PAS yang biasanya rame, riang, sekarang jadi kaku dan memasang wajah yang kurang bersahabat. Kami dipermasalahkan karena kertas yang hanya ada 12. Kami diberi pilihan untuk kembali ke pos tiga atau yang lulus hanya aku saja. Loh, aneh kan ? Pada akhirnya kakak-kakak PAS tersebut memperbolehkan kami mengganti 2 kertas yang hilang itu dengan sebuah komitmen. Ketika aku hendak mengusulkan sesuatu, adzan berkumandang dan pada akhirnya kami melaksanakan shalat dzuhur dan mengikuti kegiatan selanjutnya.
Kertas yang diambil dari pos tiga itu ternyata berisi beberapa kasus, masalah dan kami diminta untuk memberikan solusinya. Sudah kuduga, kegiatan selanjutnya lebih serius. Solusi kami tidak diterima oleh ka Apip, kertas yang berisi solusi tersebut disobek. Ada beberapa kakak larva yang memperjuangkannya. Aku ? Malas sekali terlibat dalam sandiwara ini, hehe. Tetapi ketika di lapangan futsal dan sandiwaranya semakin panas, aku tidak tahan untuk berbicara. Disana, parah banget lah. Aku sadar, kakak larva masih banyak yang egois dengan pendapatnya masing-masing. Namun, pada akhirnya kami memutuskan untuk membuat barikade dan memaksa untuk menemui ka Ifan yang dihalangi oleh kakak-kakak PAS. Jika boleh jujur, bagian inilah yang paling membosankan bagi ku karena aku memang tidak begitu suka hal seperti itu. Hehe. Maaf kakak-kakak. Rasa bosan itu hanya hinggap sesaat karena tanggapan dari Ifan sungguh luar biasa. Pada intinya, ka Ifan mengatakan bahwa apa-apa yang sudah kami lakukan itu belum seberapa dibanding perjuangan Rasulullah ketika berdakwah. Terharu banget lah saat itu, aku jadi merasa bersalah karena malas-malas mengikuti sesi yang terakhir ini.
Setelah ka Ifan menyampaikan tanggapannya tersebut, ka Ifan langsung melantik kakak larva, bermetamorfosis menjadi kakak SEMUT (semester 61). Saat itu, langit seakan mendukung suasana tersebut dengan turunnya hujan. Kakak-kakak PAS mengelilingi kami, saling bergandengan tangan, menyanyikan mars PAS. Huwaaaa...antara senang dan sungguh terharu berada ditengah-tengah PAS, ditengah orang-orang yang peduli terhadap agamanya, terhadap generasi penerusnya. Mataku serasa panas menahan airmata yang tak ingin kubiarkan tumpah. (Malu dong, :D ) Kakak PAS menyalami kami satu persatu. Duhai, terharu.
Rangkaian OBT pun selesai. Setelah makan siang, kami bersegera pulang dan masih harus melewati jalanan ekstrem. Tanjakan yang sungguh menyeramkan. Haha. Tetapi lelah pun tak terasa ketika hati merasa bahagia. Terimakasih kakak-kakak PAS juga kakak-kakak SEMUT. Jangan lupa dengan komitmennya ya, kakak-kakak SEMUT. Mari kita melangkah bersama !! Yeaaahh.

Terimakasih Allah, telah mengenalkanku pada mereka. Sungguh, “Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kamu dustakan ?”. Allah memberiku kesempatan untuk terus belajar banyak, dari PAS-ITB khususnya :D

Metamorfosis (part 2)

Nah, muhasabah berlangsung hingga pukul 04.00. Ketika aku membuka mata, wah ternyata banyak lilin dan aku suka suasana itu. Tetapi karena waktu sudah semakin pagi kami pun segera bergegas menuju mesjid untuk melaksanakan qiyamullail.
Rasanya waktu bergulir semakin cepat, padahal tetap satu menit enampuluh detik. Yap, saatnya OBT dan hati-hati mengatakannya, jangan jadi O BeTe, haha *apasih*. Sebelum kita menuju lokasi OBT yang masih dirahasiakan, tentunya sarapan dulu. Barulah sekitar pukul 07.00 atau 07.30 kami circle time di lapangan rumput dengan dipandu oleh ka Dwi. Lantas mulai diberangkatkan kelompok demi kelompok dan kelompokku, kelompok no. 1 mendapat giliran terakhir. Huaaaa bete sih, tapi tak apa karena selama penantian itu (cielah) kami mendengarkan cerita-cerita dari ka Ellis dan ka Dinur tentang acara besar. Yeeeee.
Dan pada akhirnya, kamipun berangkat menuju lokasi OBT di Taman Budaya dengan dibekali sesuatu oleh ka Liya untuk menunjang keberangkatan kami. :D
Setibanya di pos pertama, materinya adalah tentang Psikologi Amat karena disana ada ka Amat, jika tidak ada jadi Psikologi Anak (begitulah kiranya kata ka Idris). Kami diminta untuk menangani kasus adik yang masih nempel kepada orangtuanya dan adik yang enggan mentoring. Seru deh, karena yang jadi adiknya adalah ka Idris dan ka Aul *loh :D
Setelah selesai di pos pertama, kami dipersilahkan menuju pos selanjutnya di PLTA yang entah dimana, tetapi ternyata ada penunjuk jalan koq ! hehe. Wah ternyata dipinggir sungai lho!! Materinya tentang ke-PAS-an oleh ka Igna dan ka Uril. Dan kami bisa menyelesaikannya dalam waktu beberapa menit saja. Horeeee (^^)9
Tetapi, tidak cukup sampai disitu. Kami diminta untuk menyebrangi sungai, tentu tidak boleh lewat jembatan. Huwaaaa ini yang kutunggu-tunggu selain hutan dan jalanan curam, :D
Satu persatu anggota kelompokku pun turun. Mungkin tak semua memiliki perasaan yang sama denganku, karena ada juga yang nampak ragu untuk melangkah *cielah*. Nah itulah peran penting kelompok, kebersamaan. Kami melangkah bersama, berpegangan tangan, saling membantu hingga akhirnya kita sampai di atas. Sebenarnya kalau boleh minta, ingin sekali rasanya berlama-lama di sungai itu, meloncat dari batu yang satu ke batu yang lainnya, merasakan dinginnya air sungai (meski tak bisa dikatakan jernih).
Kamipun menuju pos selanjutnya, pos ketiga. Tracknya lumayan menantang, :D  tetapi seru lho !! Jarang-jarang kan jalan ke hutan seperti itu. Hihi. Di pos ketiga ini, ada ka Cakra dan ka (maaf lupa lagi namanya -_-). Tugasnya adalah membuat media pembelajaran dan mensimulasikannya. Kamipun membuat kapal-kapal-an sebagai media untuk mendongeng, meski gaje ya itulah media pembelajaran dadakan kami. Hehe.
Sebelum menuju pos selanjutnya, kami diminta untuk mencari 14 kertas dengan warna yang sama di kuburan. Huooo horror (engga juga sih, kan siang hari :D ). Kami hanya menemukan 12 warna biru, dan itu jadi permasalahan di pos selanjutnya.

-to be continued-

Metamorfosis (part 1)

Jum’at, 25 April 2014
Terik sekali siang itu, ketika aku bersama salah seorang kakak larva juga, ka eNJe, berpamitan pulang dari sebuah perkumpulan. Saat itu, jam di ponsel menunjukkan 14.40. Kami segera bergegas, karena pukul 16.00 harus sudah berkumpul di paving blok Masjid Salman untuk mengikuti rangkaian terakhir PKB di PAS ITB yaitu OBT dan kakak larva 61 akan segera bermetamorfosis jadi SEMUT. Yeeeaah.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.40 ketika aku dan ka eNJe berangkat menuju Salman. Deg-degan, takut telat, membayangkan rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan, itulah yang mengisi pikiran ku saat itu.
Seperti biasa, waktu yang dibutuhkan untuk ngangkot tidak bisa diprediksi. Kami tiba di Salman sekitar pukul 16.30. Telat. Namun, betapa terkejutnya ketika mendapati di paving blok hanya terdapat 4 kakak larva. Duh, masa cuma berenam sih ? Seiring berjalannya waktu, kakak-kakak larva yang lain pun berdatangan. Syukurlah. Dan agendanya sore itu adalah “Manasik” alias “makan-makan asik”. Asik ? Makannya sih asik, tapi masaknya itu lhooo... (alibi selaku yang ga bisa masak, haha). Manasik ini adalah lomba masaknya kakak larva. Beruntung kakak kelompokku pada pinter masak, dan rasa masakannya sangat unik sampai-sampai para juri mencicipinya sembari memejamkan mata. Haha. Dan kelompokku pun mendapatkan juara favorit. Yeeeee. Yang pada akhirnya kuperkirakan terfavorit itu karena kita tidak masuk kategori “ternyata enak” dan ter-apalah satu lagi aku lupa. Baiklah, tak apa.
Setelah Manasik, kakak-kakak PAS menayangkan sebuah video dokumenter selama  PKB. Wah tak terasa sudah 6 pertemuan yang berarti sudah hampir 2 bulan. Bagiku, ini hal yang sungguh menyenangkan ! Sayang sekali banyak kakak larva yang melewatkannya karena kesibukan lain.
Sekitar pukul 21.30 kakak larva dipersilahkan untuk beristirahat dan mencharge energinya untuk OBT esok hari. Katanya sih, jauh dan melelahkan. Lantas kamipun tertidur meski aku sendiri susah tidur karena entah kenapa. Hingga pukul 02.30 kakak-kakak PAS dibangunkan dan mereka diam-diam berkumpul. Ya, aku tidak sepenuhnya tertidur sehingga bisa mendengarkan sayup-sayup suara kakak PAS di GSG. Sepertinya mempersiapkan untuk muhasabah, karena jika tidak salah ada agenda itu. Hihi. Pukul 03.00 sepertinya kakak PAS akan membangunkan kakak larva, akupun segera kembali memejamkan mata, berpura-pura tertidur. Dan benar saja, kami dibangunkan, lalu dengan menutup mata kami dipandu untuk menuju suatu tempat, tentu saja GSG, hehe. Dan benar juga, agenda kali itu adalah muhasabah. Dengan keadaan mata yang masih ditutup, kakak-kakak PAS mulai menyampaikan kalimat demi kalimat muhasabah yang membuat kakak larva menangis bahkan ada yang sampai tersedu-sedu. Subhanallah. Menangis karena mengingat Allah.

-to be continued-

Minggu, 13 April 2014

Aku dan Pantai

Pantai
Sedari dulu memesonaku
Hingga kujangkau ia
Oh bukan karena pesonanya
Lebih karena memudarkan bosan
Lantas hilanglah bosan
Dan tiada lagi yang kudapat

Pantai
Sedari dulu memesonaku
Hingga kujangkau ia
Oh lagi-lagi, bukan karena pesonanya
Tetapi ada sesuatu bernama "Harapan" disana
Ya, menjemput "Harapan"
Namun ia pergi tak lama setelah kujumpai
Lantas pulanglah aku dengan gontai

Pantai
Memang sedari dulu memesonaku
Hingga kujangkau ia
Kali ini sungguh
Aku merindukan bisik desiran ombak
Belai lembut hempasan angin pantai
Sentuhan dingin air pantai
Hingga sungguh aku menikmatinya
Lantas pulanglah aku dengan bertumpuk pengalaman
Pun hati yang lebih berceria

Ya, berkali kujangkau ia
Hanya kala menjangkaunya tulus
ia membekas indah


(Angkot Ledeng, 13 April '14)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*muhasabah, luruskan niat*

Senin, 31 Maret 2014

Nice Sunday ! (with PAS-ITB)

Bandung, 30 Maret 2014

Belajar maha luas. Mendapatkan ilmu tidak mengenal waktu dan tempat. Mendapatkan ilmu dari apa dan siapapun.

Quotes dari apa yang aku dapatkan hari ini tatkala “first time” ikut mentoring PAS ITB. Jemariku sudah tak sabar untuk menceritakannya ! ^^

Ya. Saat ini aku tengah berusaha memasuki dunia PAS-ITB. Cielaah. Dari sekian organisasi yang melintas dalam pemikiranku, ternyata inilah yang kupilih. PAS-ITB. Haha. Masih alur PKB memang, tetapi aku telah jatuh cinta (semoga Allah memberi jalan). Pertemuan demi pertemuan dalam alur PKB senantiasa ku ikuti dengan senang hati. Dari tujuh pertemuan yang harus dilewati, ternyata sudah empat pertemuan !

Setiap pertemuan memiliki kesan tersendiri. Apalagi perihal tugas. Gokil guys ! Aku memang selalu mengerjakan tugas tersebut (sekalipun ngasal  haha) dan ternyata selalu ada reward ! Duhai senangnya. (narsis mode: on). Hanya satu tugas yang belum terlaksana, tugas Ka Waketum tuh. Huwaaaaaa.. Tapi aku akan berusaha melaksanakannya, optimis ! :*

Nah di pertemuan ke empat, kakak Larva Semut Merah diperbolehkan magang di mentoring ahad. Si “aku” yang memang nggak ada kerjaan pasti bersedia dong, meskipun diiringi keraguan “Bisi garing karena nggak konsol dulu”. Singkat cerita, hadirlah aku dalam mentoring ahad yang diawali dengan Embun Pagi. Rasanya, inilah pertama kalinya merasa ada yang “kurang” ketika ke Salman. Apa itu ? Hanya aku dan Dia yang tahu. Haha (ga penting sih). Selanjutnya.... Kikuk banget selama Embun Pagi. Sifat pemalu ku muncul seketika dan mengacaukan emosiku. Deg-degan. Itulah. Alhamdulillah, aku masih bisa menyerap ilmu dari tausiyah kala itu, sedikit mah.

Tiba saatnya mentoring ~
Aku ditempatkan di kelompok TeKa, Abdul Malik. Tentu sebelumnya dipertemukan terlebih dahulu dengan kakak kelompoknya yaitu Ka Nabil. Sebelum circle time, aku hanya mematung. Bingung luar biasa, mana adik kelompoknya tak tau entah yang mana. Kakak yang lain tentu sudah mengenal adiknya masing-masing. Huooo...Tetapi kekacauan emosi yang membuatku mematung kala itu, ter-beres-kan oleh circle time. Navira sungguh aktif sehingga membuatku tak bisa diam. Adik lain pun (yang entah kelompok mana) banyak yang tanpa kakak, langsung saja ku rangkul.

Circle time berakhir... Saatnya ke tikar dan aku ngga tau apa yang akan dilakukan. Hoho. Ah ternyata BBAQ. Hey, ini anak TeKa, masih moody lah buat belajar formal seperti baca iqro. Navira bergelayut manja di pangkuan ka Nabil. Fatha tak bisa dipisahkan dengan bundanya (iyalah *eh), dan Ka Tata sudah asyik dengan Farel. Diriku ? –krikkrik-

Tak lama, datanglah Zahran. Syukurlah, aku ngga mematung lagi. First sight-ku pada Zahran ialah adik yang cerdas, aktif dan menyenangkan. Dia lantas membuka iqro dan dengan semangatnya menunjukkan batas bacaan terakhirnya. Tetapi dia lantas membolak-balikkan halamannya dengan ekspresi lupa nan polos pun imut. Lalu aku bertanya (biar cepet) “Jadi, sudah sampai mana iqro-nya?” Dia lantas menunjukkan satu halaman. “Eh salah bukan yang ini” ucapnya sembari membuka halaman yang lain, dan hal itu ia lakukan sekitar dua kali lagi sebelum ia mengatakan “Nah yang ini Kak !” “Wah sudah jauh ternyata” ucapku. “Hahaha kakak ketipuuuuu...kakak percaya aja??” –plaakkk- ini adik TeKaaaaaa....huhuhu..  Tetapi, baiklah, setidaknya first sight-ku itu memang benar. Zahran anak yang cerdas, aktif dan “menyenangkan”. Dia membaca iqronya satu halaman ! Nice ! Dan ketika akan sarapan dia beradu argumen terlebih dahulu. Kenapa makan harus memakai tangan lah, dan lain-lain. Konyolnya, ketika aku mencoba memahamkannya dengan cerita (seperti petuah bu Mimin), dia menolak. Aaarrggghh. Yasudah, pada akhirnya dia mau makan menggunakan tangannya koq.

Selanjutnya, Navira merengek ingin lari-lari di lapangan rumput. Aku bingung, sungguh. Takut dimarahi kakak yang lain sih gara-gara meninggalkan tikar. Tetapi mana mungkin membiarkan Navira berlari-lari sendiri ? Zahran pun demikian. Akhirnya aku mengikuti mereka berlari, Farel dan Fatha pun ikut. Hey, Fatha mau lepas dari pangkuan ibunya lho ! senangnyaaaaa .

Disanalah ke-gaje-an yang seru banget karena saat itulah aku bisa lebih dekat dengan mereka. Lalu, berlarianlah aku bersama keempat adik TeKa. Tak lama, aku melihat ka Abdul pun berlarian dengan adik ! Horeeee....ternyata ini hal yang lumrah dan aku tidak akan menjadi tersangka tentunya. Haha.

Beberapa menit kemudian istirahat. Semua adik makan bekalnya masing-masing. Hebatnya Navira. Gadis imut yang ku perkirakan usianya 4-4,5 tahun itu makan sendiri ! Duhai, orangtuanya pasti sangat bangga. Ah iya, waktu istirahat hanya 15 menit, tentu saja Navira berwajah kesal karena tidak sempat bermain bahkan makan pun tak habis. Selanjutnya, ka Ipit sudah berkoar-koar dengan toa-nya mengumumkan bahwa saatnya membuat kompos.

Kelompok Abdul Malik berada pada kloter ketiga. Adik-adik tak sabaran untuk mendapatkan plastik sarung tangan dari ka Uni. Lantas, aku bersama Navira dan Fatha bergerilya mencari daun. Mereka teramat bersemangat hingga berlarian. Taraaaaa. Akhirnya terkumpullah daun-daun di plastik hitam yang dipegang ka Tata. Adik-adik pun berkumpul. Zahran, Farel, Navira, Fatha, Mahira dan entah siapa lagi namanya. Hoho. Lalu kita menghancurkan daun tersebut hingga bisa digunakan kompos. Hebatnya, Zahran dan Farel melepas sarung tangan mereka, pun Navira. Meski dengan sedikit kericuhan tetapi pada akhirnya, selesai juga. Dan kami pupuklah dua pohon yang berada di ujung lapangan rumput.

Hey, sudah selesai ternyata. Waktunya circle time pulang. Ah rasanya terlalu singkat. Tetapi amat berkesan. Dan lucunya, diakhir ketika adik-adik bersalaman dengan kakak kelompoknya, ka Nabil meminta dicium pipi kepada Navira, namun Navira menolak. Ketika bersalaman denganku, ia tiba-tiba memasang wajah cemberut dan tidak bersemangat pulang seperti yang lain. Ia malah duduk dipangkuanku. Ketika ayahnya memanggil, dia berjalan lunglai ke arahnya dengan malas. Kemudian ayahnya bertanya kenapa, dan aku terkejut sekaligus tersenyum simpul ketika ia menjawab “Gamau cium pipi..” haha. Ka Nabiiiillll tersangkaaa hihi. Ah lucunya ~

Baiklah, saatnya mentoring club. Aku meminta kepada ka Sisit untuk ditempatkan di Pencil. Tetapi setelah dicari-cari Pencil entah dimana. Lantas ka Sisit menempatkanku di MuMed. Huwaaaaaa... aku kan ga bisa. Aaarggh diriku deg-degan. Aku duduk bersama Nabila dan aku berusaha mengikuti instruksi dari ka Adik untuk membuat lilin yang bisa ditiup katanya. Sebenarnya tidak begitu sulit, namun karena tidak terbiasa, rasanya kaku. Dan Nabila terus saja memanggil ka Azifa ketika ada yang tidak ia mengerti. Haaaa aku dianggap apa. Hik hik. Tetapi akhirnya aku melebur dalam perbincangan bersama Nabila dan Kalila. Akupun mulai mengerti instruksi ka Adik sehingga bisa membantu Nabila tanpa memanggil-manggil ka Azifa. Dan Nabila teramat senang ketika berhasil membuat lilin yang bisa ditiup dan bola yang masuk kedalam ring. Horeeee.

Akhirnya mentoring pun selesai. Setelah shalat dzuhur saatnya evaluasi. Inilah yang membingungkan karena banyak yang mengatakan “gapapa sih ga ikut juga” dan statusku yang masih Larva. Jadi ?? Oke baiklah, aku ikut saja. Lagian aneh rasanya jika hanya ikut mentoring gitu aja.

Disinilah ukhuwah dengan kakak PAS itu amat terasa. Hangat. Ramah. Meski tidak semua kakak PAS se-welcome itu. Celetukan-celetukan lucu tapi berisi, menambah kehangatan dan meleburkan ke-kaku-an diriku. Selain itu, gara-gara Ka Dwi sering dan teramat sering mengatakan aku mirip dengan ka Okky, aku pun jadi bahan bully-an kakak lain. Sebenarnya  tidak masalah sih jika dibilang mirip karena ka Okky pun nampaknya tidak masalah. Tetapi masa memanggilku dengan sebutan ka Okky juga ?? Uuugghh ka Dwiiiiiiiiii >_<


Terlepas dari semua ceritaku, kini mulai jelaslah pemahamanku mengenai PAS yang sesungguhnya. Hoho. Aku jatuh cinta, sungguh. Karena disini aku belajar banyak hal dan ghiroh tholabul ‘ilmi amat terasa menggelora. Terimakasih Allah, telah menakdirkanku untuk merantau di kota ini dan menakdirkanku untuk mengenal mereka. Sungguh aku bersyukur, karena tidak semua orang bisa merasakan kebahagiaan seperti ini. Bahkan masih ada saja yang stagnan, tidak membuka mata terhadap perubahan zaman, sibuk terhadap urusan perut dan wajah, berpikir kolot serta mengacuhkan dunia pendidikan. Aku merasa sangat rendah dan fakir akan ilmu. Aku ingin belajar belajar belajar lagi dan lagi. Terus menerus. Dari manapun, dari siapapun. Lantas menyebarkan semangat ini kepada saudara-saudara yang lain. Duhai, tetapkan aku di jalan-Mu, Allah. Dan terimakasih Mamah, Bapak telah mengizinkanku untuk merantau pun senantiasa mendukungku baik dengan doa maupun materi.

Kamis, 20 Maret 2014

Bercermin

Mematung diri
Menatapnya jeli
Tersenyum lebar
Lantas berbicara tanpa arti
Hey ! siapa kamu ?
Tertawa keras
Mata berbinar
Bertepuk tangan tanpa dikehendaki
Hey ! Aku tidak mengenalmu
Berjingkrak-jingkrak
Menari tiada henti
Berlari tanpa tujuan pasti
Siapa kamu ? Siapa ?
Lalu tersenyum simpul
Menatap lembut
Berjalan anggun
Hey ! Bukankah itu kamu ?
Duhai, berhenti bersandiwara !

Minggu, 16 Maret 2014

Senandung Rindu



Angin terus saja mengintipku lembut
Terkadang keras
Ah, tak lama hujan pun turut menegurku yang terpaku
Seakan mereka bersekutu
Untuk melepaskanku dari buaian keharuan
Yang terbungkus rapi bertuliskan “Rindu”

Ya, aku terperangkap
Dalam buaian lembut keharuan
Bermuasal dari padang bernama “Cinta”
Padat berisi sejuta kenangan
Hangat oleh airmata syukur
Terbungkus rapi bertuliskan “Rindu”

Ibu, Ayah
Bukan aku manja hingga terbuai dalam keharuan
Bukan aku cengeng hingga dihanyutkan oleh airmata
Bukan aku tak senang Yah, Bu.
Bahkan ucap syukurku tak pernah lepas dikirimkan pada Yang Maha Pengasih

Ibu, Ayah
Terimakasih atas paket kasih sayangmu
Terimakasih atas bingkisan do’amu
Terimakasih... Terimakasih
Atas banyak hal yang tak mampu kusebutkan lagi

Aku akan kembali dengan membawakan kalian bingkisan sederhana
Berisikan sesuatu yang berhasil ku petik di ladang ilmu
Tanda terimakasihku
Meski takkan mampu mengganti bingkisan-bingkisanmu selama ini
Namun inilah dayaku, Yah, Bu.

Do’akan aku agar senantiasa kuat
Menghadapi dunia “yang sesungguhnya”
Yang tak selembut dekapanmu
Ah, aku rindu